Feeds:
Posts
Comments

Well, alhamdulillah tahun 2011 banyak sekali yang aku achieved. Mulai dari kelulusan master dari Tohoku University, mengikuti conference di Singapore, diterima kerja di Panasonic dan menjadi representative karyawan baru, sampe diterimanya artikel saya di Journal of Physical Chemistry C yg notabene punya impact factor sangat tinggi yaitu 4,5. Ga berhenti sampe di situ, artikel saya pun terpilih sebagai cover art journal vol. 115 (48) tahun 2011. Rezeki seolah2 membanjiri hidupku walaupun sebelumnya aku sempat putus asa karena di awal tahun ini gempa & tsunami menghantam tempat aku tinggal. Banyak sekali yg harus aku syukuri, tp rasanya kesibukan2ku ini sedikit banyak telah mengambil waktu ibadahku. Semoga Allah mengampuni semua dosa2ku.

Akhir tahun 2011, di saat pekerjaanku di kantor baru saja dimulai aku mendapatkan bahwa bekerja di perusahaan itu memang tidak mudah dan cenderung kejam, banyak hal2 baru yg harus aku adapt, banyak teman2 kantor dan bos yang memberi tekanan mental, perbedaan budaya, dan keterbatasan bahasa. Untungnya aku, yg tidak memiliki seorang pun sanak saudara di negeri sakura ini, memiliki banyak teman2 pelajar orang Indonesia di Osaka yang baik2 sehingga aku tidak merasa sendiri lagi.

Walopun begitu, aku masih saja kepikiran bagaimana jadinya kehidupanku di Panasonic jika masih dibebani tekanan2 yg membuatku sulit bekerja. Awal tahun akhirnya aku jatuh sakit, flu. Sakit memang tidak enak, tp terkadang aku merasa bersyukur karena aku bisa melupakan sebentar kekhawatiran2ku ttg pekerjaan.

Hingga aku membaca tulisan pak Mario di facebook sebagai berikut

Engkau yang sedang menguatkan hati dalam menghadapi kehidupan yang tidak mudah, dengarlah ini …
Semua yang terjadi kepadamu kemarin, hari ini, dan esok hari adalah untuk kebaikanmu.
Belajar dan bekerjalah dengan ikhlas. Bersedihlah jika engkau ingin bersedih, tapi jangan kurangi kebaikan dari yang kau lakukan.
Tuhan sangat mencintai jiwa yang sedang bersedih karena ketidak-berdayaannya, tapi tetap memelihara keikhlasannya untuk menjadi pembahagia bagi keluarga dan sesamanya.
Ikhlas adalah penentu dari semua kualitas hati, yang membentuk dasar dari cawan besar jiwamu yang menampung semua rezeki dan kemuliaan hidupmu.

Yap sesulit apapun hidup, ikhlas, sabar, dan solat adalah penolongku. Dan akan kulakukan yang terbaik pada setiap pekerjaan2ku.
Selamat tahun baru 2012. Selamat menghadapi tantangan2 baru dan selamat berkarya.

_dear haris in the future,

Bhineka Tunggal Ika, semboyan bangsa Indonesia. Sedari kecil aku sering mendengar kata-kata ini tanpa tau maknanya secara mendalam. Hal ini mungkin wajar saja karena setiap hari kita bangsa Indonesia hidup dalam keanekaragaman sampe2 kita tidak sadar apa itu kehomogenan. Kita memiliki lebih dari 100 bahasa, 100 budaya, 5 agama. Bahkan Alm. Ayah dan Ibu ku berasal dari dua daerah yg berbeda, dua bahasa dan dua budaya yg berberda. So, keanekaragaman sudah menjadi bagian dari hidupku, bukan hal yg aneh.

Sangat beruntung aku bisa datang ke Jepang, sebuah negara yg sangat homogen dan menjujung tinggi kehomogenan, sesuatu yg belum pernah aku rasakan sebelumnya. Tidak hanya itu, aku lebih beruntung lagi karena aku berada di lab dengan jumlah keberagaman orang asing terbanyak di IMR Tohoku Uni. Bagaimana tidak, lab kami punya orang Jepang, Amerika, Rusia, Iran, China, India, Indonesia, Korea, Thailand, Tunisia, Italia, dll. Menakjubkan sekali, aku hidup di negara homogen tapi di dalam lingkungan heterogen. Selama lbh dari 2 tahun aku berada di lab ini, kini aku menyadari sesuatu; apa itu keberagaman.

Komunitas terbesar di lab kami adalah Jepang, China, India, dan Iran, jd tentu saja mereka yg berbicara satu bahasa akan mengumpul, sedangkan mereka yg minoritas, termasuk aku, mau tidak mau harus berkumpul dgn minoritas lainnya. Setiap siang aku, satu orang tunisia, satu orang korea, dan satu orang thailand selalu pergi makan siang bersama. Dan untuk risetku, secara tidak sengaja aku memilih satu orang Rusia, satu orang Amerika, dan satu orang Iran sebagai collaborators.

Setiap pergi makan siang, yg selalu menjadi pertanyaan pertama kami adalah “Kita akan pergi makan kemana?” Kebetulan dua dari kami adalah muslim, sedangkan dua lainnya adalah budhists. Menerangkan apa itu makanan halal kepada orang beragama jauh lebih mudah daripada menjelaskannya kepada orang tidak beragama spt orang Jepang. Mereka, the budhists, sangat mengerti food restrictions yg kami miliki, bahkan satu dari mereka mengakui bahwa babi itu kotor dan hewan yg disembilih di leher adalah jauh lebih sehat, walaupun dia masih suka makan makanan non-halal itu. Sedangkan yg satu lagi mengalaminya langsung; akibat terlalu banyak minum alkohol sewaktu muda, dia sakit perut, panas badan, tdk nyenyak tidur setiap malam, dan haru minum obat setiap hari. Mereka tidak pernah komplain sama sekali jika restaurant yg kami kunjungi setiap hari itu2 saja, dan mereka tetap pergi makan siang bersama dengan kami hingga hari ini. Satu dari sekian banyak yg lupa aku syukuri selama hampir 3 tahun tinggal di Jepang.

Lain halnya dengan orang-orang China di lab kami yg selalu ngumpul dengan orang China lagi. Kemampuan English mereka tidak meningkat, cara berpikir mereka masih primitif; mereka tidak bisa menerima pandangan orang lain yg berbeda. Walaupun aku akui kemampuan fisika dan kerja keras mereka luar biasa.

Ketika mengerjakan riset, berdiskusi dengan orang Rusia dan Amerika lebih menyenangkan walopun kadang-kadang aku ga ngerti apa yg mereka katakan. Orang Rusia pronounciation dan tata bahasanya aneh, sedangkan orang Amerika berbicara terlalu cepat dan tidak jelas. Berdiskusi dengan orang seiman dari Iran tentu lebih relaxing, tapi seperti kebanyakan orang Asia, orang Iran pun sangat memperhatikan hierarki senior-junior, yg sangat aku benci (tp kadang2 aku juga melakukannya ding hehe).

Bagaimana dengan orang Jepang? Sangat sedikit waktu yg aku habiskan utk berinteraksi dengan orang Jepang padahal aku tinggal di Jepang. Aneh sekali bukan? Tambah aneh lagi, aku yg baru saja mengenal huruf kanji dan jarang ngobrol dgn orang Jepang ini bisa berbahasa Jepang. Tidak fasih memang, tapi senseiku bilang aku adalah mhs asing dari negara non-kanji yg paling jago berbahasa Jepang dalam sejarah 21 tahun lab ini berdiri. Selain karena keterbatasan waktu, alasan lain kenapa aku jarang berinteraksi dgn orang Jepang adalah karena tingkat diversity mereka yg rendah. Bayangkan, mereka tidak suka aku berbicara English karena mereka tidak ngerti. Ok, aku ngomong bhs Jepang sebisaku, tp mereka pun tidak puas karena mereka merasa harus memeras otak utk membuat kalimat yg mudah dimerngerti olehku. Aku pikir mereka egois sekali, tp aku tak bs berbuat apa-apa karena ini tanah mereka. Mungkin klo mereka yg berada di Indonesia dan aku ada di posisi mereka, aku juga mungkin akan melakukan hal yg sama, jadi aku sangat mengerti.

Terlebih lagi, hari ini aku menonton satu drama Jepang yg memperlihatkan bagaimana orang-orang cacat fisik/mental berikutnya sanak keluarganya yg normal pun diperlakukan sebagai orang-orang aneh yg dicemoohkan dan dijauhkan. Apakah gaya hidup mereka yg terlalu kompetitif yg membuat hukum sosial mereka tidak berkeprimanusian spt ini. Hidup di negara maju yg bangsanya tidak mengerti apa itu toleransi rasanya tidak lebih enak daripada hidup di negara miskin tp bangsanya bisa saling menghargai dan menerima satu sama lain.

Berbeda dgn “kegelapan”, yang hakikinya adalah “ketiadaan cahaya”, aku pikir “perbedaan” hakikinya adalah “keberadaan persamaan”.

Syukur alhamdulillah masih diberi kesempatan hidup dan kesempatan utk memaknai hidup hingga tahun yg ke-25.
Selamat ulang tahun Haris.

_melankolis mode on
Dear Haris in the future,

Sibuk ngerjain riset, sibuk nulis paper, sibuk cari kerja, sibuk cari makan..
hmmm.. gmn ya? rasanya semua yg gw lakuin adalah self-centris, sibuk utk gw, utk gw, utk gw, dan utk gw lagi.. 寂しくない?
Gw lg pusing mikrin masa depan gw, stay lbh lama di jepang menurut gw hidupnya bakal self-oriented & sepi. Penduduk jepang ga sebanyak Indonesia, Orang2 jepang cenderung tertutup, ga serame & setoleransi orang2 Indo, Gw bukan orang yg bs memulai pembicaraan, Gw paling suka diam & mendengarkan, tp gw ga suka klo org ga ngajak gw ngobrol.

Jadi inget lagunya Matsu Takako – Minna Hitori (Everyone is alone)

みんなひとりぼっち それを知るからなお
あなたの大事さがわかるよ
心の片すみで 気にかけてくれてる
恋よりも強い味方
Everyone is alone, thus because of knowing that,
I understand your preciousness.
In the corner of your heart, you care about me.
That’s a stronger ally even it’s compared to love.

Ah, たまには私を Ah, 頼ってもいいよ
Ah, it’s okay to Ah, sometimes depend on me.

生まれる時ひとり 最期もまたひとり
だから生きてるあいだだけは
小さなぬくもりや ふとした 優しさを
求めずにはいられない
When you’re born, you’re alone and will again be alone in the end.
That’s why, only when you’re living,
you can’t help but to seek for
a little of warmth and a thickness of gentleness

Everybody needs to be needed
Everybody wants to be wanted
‘Cause everybody knows that we are all alone
Let me give my gratitude to you
For always being there and smile for me
Many many thanks to you, the best friend of mine

強くになりたいいいいい。。。

Bushido

Di tengah-tengah kesibukan gw saat ini yg sedang sibuk menulis paper utk journal international, menulis master thesis, bikin poster utk conference, melakukan job hunting, dll, instead of reading books titled Physical Chemistry or Job Hunting for Dummies and the likes, gw malah baca buku berjudul Bushido (code of samurai), sampai akhirnya gw ktemu kata2 bagus berikut.

A truly brave man is ever serene; he is never taken by surprise; nothing ruffles the equanimity of his spirit. In the heat of battle he remains cool; in the midst of catastrophes he keeps level his mind. Earthquakes do not shake him, he laugh at storms. We admire him as truly great, who, in the menacing presence of danger or death, retains his self-possession.

Dear Haris in the future,

Sore itu sepulang solat jumat di Mesjid Sendai yg letaknya cukup jauh dari pusat kota, aku dan 2 orang temanku selab pergi makan siang ke restoran Italia langganan kami di Ichibancho, dan kami masih memperbincangkan tentang katastropi atau bencana alam yg akan terjadi di sendai mengingat sejarah terjadinya gempa besar Miyagi yg legendaris dan posisi bulan yg akan mencapai jarak terdekatnya dgn bumi dlm bbrp hari ke depan. Perbincangan ini semakin menarik dan terus kami lanjutkan karena tgl 9 Maret (2 hari sebelum tsunami) Sendai dihantam gempa 7.2 SR siang hari, tp hanya sebentar saja yg kemudian disusul kembali gempa yg cukup lama keesokan harinya pd tanggal 10.

Masih di dalam restoran Italia tersebut, kami menghabiskan pasta dan pizza yg kami pesan, kemudian sekitar jam setengah tiga saat kami akan membayar bill-nya dan kembali ke lab kami dikejutkan kembali oleh gempa. Awalnya aku pikir ini biasa saja, tp aku merasa ada yg berbeda pd gempa kali ini. Aku masih ingat pd saat itu aku berkata pada temanku “This one is big.. this one is big” berulang2 utk mendaptkan konfirmasi bahwa bukan aku saja yg meraskan bahwa gempa kali ini sgt besar. Seketika aku dan temanku berlindung di bawah meja. Piring dan gelas sudah ada yg berjatuhan ke lantai kemudian pecah. Namun orang2 jepang di sebelahku masih saja duduk di atas kursinya. Setelah lampu padam dan semakin banyak suara pecahan piring terdengar, barulah semua orang berlindung di bawah meja sambil mereka berteriak “Kowai.. kowai” sedangkan kami bertiga membaca doa dan ayat kursi.

Gempa belum juga usai, kami msh di dalam restoran di lantai 2. Aku tahu bahwa ketika bangunan runtuh karena gempa dia tidak akan miring dan jatuh ke samping melainkan runtuh ke bawah, sehingga saat itu aku sdh siap2 akan jatuh ke lantai 1 dan siap menerima puluhan ton material yg akan menimpaku dari lt 3 dan 4. Tapi syukurlah hal buruk yg aku pikirkan itu tidak terjadi. Gempa berhenti dan kami langsung keluar ruangan menuju lt 1 tanpa membayar apa yg sudah kami santap (yatta.. :P ). Kami menuju sendai station di jalan besar sebelum kembali ke lab utk menghindari adanya runtuhan bangunan. Selama kurang lebih satu jam kami berada di jalan krn gempa susulan msh terus menggoyang kami.

Akhirnya kami memutuskan utk kembali ke lab. Sepanjang jalan aku perhatikan pd umumnya bangunan msh utuh, dan aku walaopun sdh 2.5 thn tinggal di Jepang aku msh sgt mengagumi kehebatan org jepang dlm membuat bangunan. Kerusakan yg aku lihat hanyalah sumber listrik lampu lalu lintas yg terbakar, kemudian bbrp tiang lampu yg rubuh, lalu kaca2 toko yg pecah. Kami sampai di lab dengan menaiki tangga hingga ke lantai 7 krn lift yg biasa kami pakai rusak. Di lt 7 khususnya ruangan tempatku bekerja, semua barang2 berantakan luar biasa. Di lt 7 ternyata guncangan terasa lebih besar drpd di lt 2 sehingga membuat barang2 di labku berantakan tak beraturan. LCDku jatuh menghantam badan CPU yg aku rasa LCD itu pasti rusak, tp tdk sempat aku cek lantaran aku hanya berpikir utk mengambil helmku dan dokumen2 penting miliku dan segera keluar krn saat itu aku yakin bs kembali lg ke lab dlm bbrp hari ke depan utk mengecek dan mengambil data2 thesisku.

Tp ternyata perkiraanku meleset, setelah kami bertiga pulang ke apato salah seorang teman kami, kami disuruh utk mengungsi ke aula sekolah terdekat dan tidak diperkenankan masuk kembali ke lab hingga waktu yg tak ditentukan. Saat itu aku tidak tau jika tsunami sudah menghantam Sendai timur & selatan (wakabayashi & Nattori) sedangkan aku tinggal di Sendai tengah (Aoba). Kemudian aku menyadarinya ketika aku berbicang dengan obaa-chan yg mengantarkan kami ke sekolah tersebut. Aku diungsikan ke SD Katahira malam itu bersama 2 orang temanku dan 1 keluarga org India yg baru kami kenal di jalan dan tentu saja bersama dgn orang2 jepang yg tinggal di daerah itu.

Di dalam ruang pengungsian itu, kami orang asing sedikit dimanjakan oleh orang2 jepang yg ada di sekitar kami. Awalnya aku berperan sebagai penyedia internet dan penerjemah informasi2 utk tmn2ku karena hanya aku yg memakai iPhone dan mengerti bhs Jepang. Kemudian seorang ibu orang jepang di belakangku yg kulihat sedari td memangku anaknya sembari duduk memuji skill bhs jepangku “Nihongo bacchiri da ne” katanya. “Ie ie” aku balas. Kemudian kami diberikan biskuit dan minuman oleh organizer, dan si ibu itu selalu mendahulukan kami utk mendapatkan biscuit dan air minum. Bahkan saat akan tidur pun si ibu itu selalu menggeser posisinya agar kami mendapatkan space utk tidur, semalaman aku tidur-bangun karena kedinginan dan posisi tidurku yg tdk nyaman, selam itu aku perhatikan si ibu itu tidak pernah tidur, dia tetap duduk di atas tikar memangku anaknya yg sdg tidur. Luar biasa. Adakah ibu spt ini di Indonesia?? Tp aku yakin semua ibu memang luar biasa, namun yg satu ini benar2 luar biasa.

Kami bangun sgt pagi skitar jam 5 (musim dingin jam 5 terasa gelap sekali). Begitu terang aku pergi ke toilet, tp sesampainya di toilet aku hanya bs berkata “Toilet lbh nyaman digunakan jika gelap” Ya, itu karena toiletnya semakin kotor karena tidak mengalirnya air bersih. Kemudian apgi itu aku pulang ke apato-ku setelah mendapatkan onigiri gratis. Aku kembali ke apato utk mencharge iPhone ku di laptop yg msh ada sisa batere dan utk ganti pakaian. Tadinya aku berniat membeli makanan ke supa tp ternyata semua toko tutup, sehingga setelah ditelpon oleh Dian aku memutuskan utk bergabung ke tmpt pengungsian dimana orang2 international termasuk org2 Indonesia berkumpul, Sanjo Junior High namanya.

Aku tinggal selama 2 hari di sekolah itu namun space utk tidur semakin mengecil dgn adanya kehadiranku malam minggu itu, sehingga aku memutuskan utk tidak tidur dan mengobrol dgn mhs asal sweden dan pelaut asal filipina yg baru saja tiba. Bnyk informasinya aku dpt dari mereka yg kebanyakan org Indo ga tau. Ohya malm itu sebelum tidur kami kedatangan tim dari KBRI yg membawa selimut dan matras dalam 2 mobil yg mereka bawa. Ntah apa yg mereka diskusikan di dalam sana dgn tmn2ku, aku tidak ikut bagian dlm diskusi itu karena aku rasa sdh cukup bnyk org yg campur tangan dan lgpula aku tidak suka jika perbincangannya dilakukan di dalam aula dan menganggu orang lain yg ingin tidur. Keesokan paginya hari minggu barulah diputuskan utk mengevakuasi kami semua ke KBRI Tokyo. Keputusan evakuasi ini jelas tdk diterima begitu saja oleh separuh dari kami krn berbagai alasan pribadi dan alasan membaiknya kondisi di Sendai, sehingga menimbulkan cekcok di antara kami. Orang2 sudah mulai lelah dan emosi menjadi labil. Di saat2 seperti inilah sifat sejati seseorang mulai terlihat; ada yg biasa2 aja, ada yg mudah emosi, ada yg heroichollic, ada yg sincerely bekerja keras & membantu org lain, ada yg egois, ada yg oportunis, ada yg menjadi tdk rasional, ada yg tdk peduli, dll. Tp anyway, semua orang punya sifat baik dan buruk, dan dengan segala keterbatasan itu kami berhasil mengevakuasi diri ke Tokyo, dan aku sgt berterima kasih kepada semua yg telah bahu-membahu merealisasikan hal ini. Btw, Keadaan ini membuat aku teringat kembali pelajaran yg aku dan adikku terima selama ospek di ITB .

Yah begitulah ceritaku di hari2 pertama gempa dan tsunami di Jepang hingga akhirnya kami sampai di sekolah republik indonesia tokyo (SRIT) dengan segala kemewahan hospitality-nya, kemudian jalan2 ke Ginza utk mengurus berbagai keperluan dan mengurus Re-entry permit ke Shinagawa selama 8jam mengantri berdiri, lalu pulang ke Indonesia. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua betapa powerless-nya manusia thdp power lain yg mengendalikan semesta alam dan isinya.

@bandung, masih ngerasa goyang2 pdhal ga gempa

Suasana pengungsian di SD Katahira

Paket nasi utk pengungsi Indonesia ditengah2 krisis makanan & gas

Suasana pengungsian di SRIT with pak Dubes

Antrian super panjang di imigrasi tokyo

Dear Haris in the future,

Pernahkah terpikir utk bekerja bersama orang2 yg utk berkomunikasi pun sulit? Pernahkah terpikir utk bekerja bersama orang2 yg tidak pernah mengerti mengapa babi dan alcohol bukan makanan manusia? Pernahkah terpikir utk meninggalkan “Kesenangan” demi sebuah “Kesusahan”? Ya, aku menanyakan “Pernahkah terpikir oleh anda utk mencari nafkah di negeri asing?”

Aku jawab, tak pernah terpikir olehku hal2 yg demikian tapi kini aku melakukannya. Ya aku sedang dalam proses pendaftaran diri menjadi seorang pegawai perusahaan di Jepang. Tapi ntah kenapa orang2 di sekitarku termasuk senseiku sendiri selalu bilang “wow haris-kun pintar ya nanti pulang ke Indonesia bisa cpt kaya” toka “wow hebat klo nanti sudah jd orang kaya jgn lupakan kami ya” toka dll.. Tak pernah terberesit dalam pikiranku bahwa menjadi kaya adalah motivasiku ingin bekerja di Jepang. Lgpula di tulisanku sebelumnya, sdh aku beberkan bahwa Jepang adalah sebuah negara dmn orang2nya tidak akan pernah menjadi kaya. Jika aku ingin kaya, justru Indonesia lah tempat yg paling tepat.

Sejak kecil, aku dibesarkan oleh sebuah keluarga pedagang. Pahit-manis, menipu-ditipu, membenci-dibenci, sono gurai no sekai wo wakarimashita. Tp selalu ada yg berbeda dgn Alm ayahku. Dalam kehidupannya sebagai pedagang, beliau di mataku hanya meraskan manis, ditipu, tp tak pernah membenci ataupun dibenci oleh masyarakat sekitar (kecuali tentunya oleh lawan bisnisnya). Karena lingkunganku inilah aku selalu tertarik dgn pengusaha2 sukses terutama orang Jepang. Jika anda ingat acara TV “Solusi Rhenald Kasali” atau buku “Made in Japan” karangan Akio Morita (founder of SONY) anda pastilah jg orang2 yg terinspirasi dan terobsesi dengan kesuksesan seperti mereka.

Bagiku kesuksesan bukanlah banyaknya uang, mobil, rumah, harta yang aku punya seperti yg dituliskan Prof. Kwang dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners”. Tapi kesuksesan bagiku adalah proses bagaimana anda melalui setiap rintangan/tantangan kehidupan. Bagiku, yg jujur saja tidak pernah merasakan kesulitan ekonomi sedari kecil hingga kini, mungkin sangat mudah menuliskan hal2 idealis semacam kesuksesan. Tp percayalah bahwa orang yg berkecukupan ekonomi sekalipun tidak mudah melalui kehidupannya.

Dan kini aku dihadapkan pada semua pertanyaan yg aku sebut di atas. Aku pikir kinilah saatnya aku terjun pada dunia nyata, dunia yg keras dan jauh dari idealisme. Saat itulah, setibanya aku di Jepang, aku mengetahui apa itu Shakai jin, apa itu Syuukatsu dan bagaimana semua itu memberi pelajaran yg sungguh luar biasa. Oleh karenanya, meskipun perjuangan job hunting-ku di Jepang ini akan berakhir di luar rencanaku, aku tetap bersyukur. Apa yg telah aku lewati selama lebih dari 1 thn melakukan job hunting di Jepang ini, itu semua akan menjadi sebuah step besar dlm kesuksesanku di masa kini dan masa depan.

OK, kita kembali ke topik. 就職活動(syuushoku katsudou, disingkat 就活 syuukatsu), atau dlm bahasa Indonesia adalah “Aktifitas Mencari Kerja”, di Jepang menurutku cukup unik. Apa yang bikin unik? Yang bikin unik adalah karena syuukatsu Jepang dimulai 1,5 ato 2 tahun sebelum lulus university (mhs S1 tingkat 3 atau S2 tingkat 1 atau S3 tingkat 2).

Apa saja yang mereka lakukan selama 2 thn tersebut? Dan apa makna di balik 2 thn tersebut? Berikut adalah hasil pengamatanku:

Menjadi “seorang pekerja” bagi orang jepang  memiliki makna yang sangat mendalam. Jika kita lihat nihongo-nya pekerja dalam huruf kanji adalah 社会人 (shakai jin). Shakai berarti Society dan Jin berarti Orang… Dou iu imi deshouka?? Aku dapatkan bahwa bekerja di sebuah perusahaan berarti kita mendapatkan gaji. Gaji berasal dari keuntungan perusahaan menjual produk/jasa ke masyarakat. Dengan kata lain, kita digaji oleh masyarakat. Oleh karena itu Pekerja memiliki tanggung jawab kepada Masyarakat.
Bagi kita orang Indonesia mungkn ini tidak memiliki makna yg sgt dalam karena kita terbiasa bekerja setengah hari, bekerja asal beres, masa bodoh asalkan gw msh bs makan, dan termajakan dgn kekayaan alam Indonesia. Lain halnya dengan orang Jepang yg tidak memiliki SDA sedikit pun shg harus menggantungkan kehidupaanya pada eksport. Jika mereka tidak bekerja keras utk mengasilkan produk2 yg bagus dan inovatif, mereka akan kelaparan.

Nah, 2 tahun inilah mereka pergunakan sebagai persiapan menjadi seorang shakai jin yang baik. Sebagai contoh jika anda akan lulus April 2013 berikut adalah yang dilakukan students Jepang untuk syuukatsu:
April 2011:
Mulai ikut tes TOEIC (utk ryuugakusei, plus ikut daftar tes JLPT/BJT/dll), Daftar RikuNavi/ MyNavi/ NikkeiNavi/ SyuukatsuNavi/ TopCarerr/dll
Mei 2011:
Menentukan tema riset, Menganalisis diri, Membeli Suits/Sepatu/Tas/dll
Juni 2011:
Mencari info2 dan daftar Internship
Juli 2011:
Wawancara untuk Internship
Agustus 2011:
Internship
September 2011:
Yasumi
Oktober~Desember 2011:
Mempersiapkan Dokumen2 (Rirekisho, Jiko PR, dll), Melakukan research ttg berbagai perusahaan, Datang ke acara2 Job Fair, PreEntry ke perusahaan2 yang diminati, Mengikuti seminar2/kengaku yang khusus diadakan perusahaan. (utk ryuugakusei, ikut kelas syuukatsu yg disediakan university jika ada)
Januari~Februari 2012:
Mengikuti Sinro Guidance yang diadakan Fakultas, Mengikuti acara Seminar/Kengaku perusahaan2, Submit Entry Sheet (Utk students yg apply dgn Jiyuu Oubo*)
Maret 2012:
Submit Entry Sheet (Utk students yg apply dgn Jiyuu Oubo*), Mengikuti ujian Gakko Suisen (utk students yg apply dengan gakko suisen*)
April 2012:
Mengikuti ujian Gakko Suisen (utk students yg apply dengan gakko suisen), Wawancara / Ujian SPI / Ujian Group Disscusion / dll di perusahaan
Mei 2012:
Pengumuman penerimaan (naitei)
Juni 2012~April 2013:
Fokus riset di Lab utk kelulusan.

Yap, bekerja dan hidup di Jepang adalah ratusan kali lipat lbh stressful dan membosankan daripada hidup di tanah air tercinta Indonesia. Tapi, andakah salah satu dari orang2 yg ingin terus  menjawab tantangan menjadi manusia yg lebih tangguh dan sedikit demi sedikit merasakan senangnya secuil kesuksesan? Semua pilihan ada di tangan anda.


Daftar kosakata:
*Toka: atau, contohnya
*Sono gurai no sekai wo wakarimashita: saya mengerti dunia semacam itu
*Dou iu imi deshouka: apa maksudnya?
*Ryuugakusei: Mhs asing
*Yasumi: istirahat/liburan
*Rirekisho: CV
*Jiyuu Oubo: Mendaftar (submit entry sheet) ke perusahaan secara bebas tanpa mempergunakan surat rekomendasi dari Fakultas. Bisa daftar ke banyak perusahaan.
*Gakkou Suisen Oubo: Mendaftar ke perusahaan dengan mempergunakan surat rekomendasi dari Fakultas. 1 surat rekomendasi hanya bs dipakai ke 1 perusahaan.

ingin

sumber: KOMPAS.com

Dear Haris in the future,

Seorang yang introvert cenderung duduk tenang di sudut ruangan saat meeting. Ia cenderung tidak memulai percakapan, enggan menjadi pusat perhatian, dan tidak akan berbaur dengan orang-orang yang ditemuinya saat acara-acara pesta. Mereka cenderung dianggap pendiam atau pemalu. Karakter ini kebalikan dengan karakter seorang extrovert.

Kaum yang extrovert mendapatkan perhatian yang lebih banyak, dan cenderung dikagumi orang. Mereka orang yang mendominasi acara-acara gathering, dan mengatur apa yang harus dilakukan di kantor.

Namun, tidak seperti yang dikira orang, seorang introvert bukanlah orang yang antisosial. Penelitian terakhir bahkan menunjukkan bahwa si introvert adalah orang yang memberi pengaruh sosial terbesar. Mereka lebih memiliki kemampuan membuat keputusan, mampu memelihara hubungan yang awet, dan memancarkan rasa tenang di tengah gaya hidup yang serbainstan, serbacepat, serbaterburu-buru, dan serbaberisik.

Sekitar 40 persen karyawan di level eksekutif, begitu pula beberapa penulis, seniman, penemu, dan diplomat, menunjukkan karakter introvert yang sangat kuat. Pencipta Harry Potter, JK Rowling, adalah contoh orang yang mengklaim dirinya sendiri sebagai introvert. Begitu pula Gwyneth Paltrow, Meryl Streep, Bill Gates, dan Presiden AS Barack Obama.

Patsy Rodenburg, penulis buku Presence: How To Use Positive Energy In Every Situation, mengatakan karakter introvert ini sangat menguntungkan para pesohor tersebut. Aktor, atau orang-orang terkenal, seringkali dikira senang tampil atau memamerkan diri. Padahal tidak begitu.

“Banyak klien saya yang introvert menggunakan bakat mereka untuk menganalisa diri, untuk menambah kedalaman dan integritas dalam karakter yang mereka perankan. Mereka menguasai penggunaan bahasa tubuh yang tidak agresif, dan mampu mengontrol suara untuk menampilkan sisi diri yang menarik, tanpa tergantung pada pementingan hal-hal lahiriah,” jelas perempuan yang pernah bekerja dengan sejumlah seleb seperti Emma Thompson dan Madonna ini.

Mana yang mendominasi?
Istilah introversi dan ekstroversi itu sendiri pertama kali dipopulerkan oleh psikolog Carl Jung. Menurut penelitian terbaru, seorang introvert menunjukkan peningkatan aliran darah di korteks depan dari otak yang berperan dalam memori, perencanaan, memecahkan masalah, dan penelitian yang kompleks. Di dalam diamnya, seorang introvert lebih mampu mendengarkan pikiran-pikirannya sendiri, dan mampu menolak gangguan dari luar dirinya.

Menurut uji kepribadian Myers-Briggs Type Indicator, pada dasarnya semua orang memiliki sisi introvert maupun extrovert. Namun, salah satu akan mendominasi. Jika extrovert berkembang dalam lingkungan yang gaduh dan serbacepat, seorang introvert akan menarik energi dari dalam diri mereka, menemukan hiburan dalam dunianya sendiri, dimana mereka bebas merefleksikan diri dan mengeksplorasi ide-idenya.

Memang, menurut Jennifer Kahnweiler, penulis buku The Introverted Leader, karena karakternya itu orang yang introvert seringkali menderita di tempat kerja.

“Mereka harus berusaha keras memberikan kontribusi pada sesi brainstorming di antara rekan-rekan kerjanya yang pintar berbicara, atau mengklaim bahwa mereka yang berjasa untuk proyek yang sedang dikerjakan,” katanya.

Meskipun begitu, introvert tak perlu mencoba bersaing dengan extrovert. Mereka bisa menggunakan kemerdekaan dan bakat alamnya untuk ide-ide yang orisinal, dan memerhatikan detail.

Kecenderungan introvert untuk menghindari politik kantor juga menunjukkan bahwa mereka bisa menggunakan ketrampilan mereka berbicara dari hati ke hati untuk membangun hubungan yang loyal dan bertahan lama, ketimbang rekan lain yang terjebak dalam lingkungan yang kompetitif.

Psikolog bidang relationship, Corinne Sweet, mengatakan pula bahwa seorang introvert mampu memancarkan ketenangan dan mampu meredam anggota keluarga yang saling bersitegang ataupun rekan kerja yang sulit diatur. Kliennya yang introvert seringkali menjadi kekuatan dalam suatu pernikahan. Ketika melakukan pendekatan pribadi, entah itu terhadap anak-anak yang sedang bertengkar atau dengan pasangan, mereka mampu menengahi perselisihan di antara mereka.

“Yang paling penting adalah mendapatkan waktu untuk sendiri, meskipun cuma jalan-jalan di taman sebentar untuk menjauhkan diri dari keluarga, adalah sumber kehidupan si introvert,” tuturnya.

Dalam pergaulan, seringkali kita lebih menghargai perilaku extrovert, tidak seperti introvert yang cenderung pemalu. Padahal, si introvert bukan saja salah satu orang yang paling sukses dalam pergaulan sosial, tetapi juga yang paling bahagia. Sebab batin mereka telah terpuaskan dengan kemewahan untuk menyendiri dalam pikirannya.

Maka, tak perlu minder jika Anda seorang introver. Seperti ekstrover, introver bukanlah kelemahan, melainkan hanya suatu karakter yang unik. Lalu, apakah Anda merasa menjadi sosok yang introver? Coba kenali ciri-cirinya berikut:

* Anda selalu berenergi justru saat sedang sendiri, namun merasa energi tersebut terkuras jika berada di tengah-tengah orang lain dalam waktu lama.
* “Berpikir dulu, baru bicara”, adalah kata sakti Anda.
* Anda cenderung tidak mampu multi-tasking, karena Anda menghargai kedalaman dan detail, dan seringkali menjadi sangat tersita dalam proyek-proyek yang dikerjakan di kantor.
* Orang lain biasanya mendatangi Anda untuk menenangkan diri, atau mencari mediasi saat terjadi krisis dan perdebatan.
* Anda mengalami gejala-gejala fisik yang mengganggu, seperti sakit punggung, kepala, atau perut, ketika berada di tengah kelompok. Tetapi Anda akan segera pulih setelah menjauh dari mereka.

Agar karakter introver ini tidak mengganggu kehidupan Anda, Anda perlu mengetahui bagaimana mengantisipasi keunikan Anda ini. Begini caranya:
* Berhentilah memandang introversi sebagai sesuatu yang tidak normal. Boleh percaya boleh tidak, tetapi separuh dari populasi manusia adalah introver. Hanya saja, mereka tidak menyadarinya, atau tidak menganggapnya jadi masalah.
* Datanglah lebih awal saat meeting untuk mengadakan kontak dengan orang lain berdua saja, sebelum peserta rapat lainnya datang.
* Gunakan kemampuan Anda untuk kata-kata yang tertulis, bukan diucapkan, untuk menyampaikan kepedulian atau ide-ide Anda. Di rumah, Anda bisa menempelkan post it di lemari es atau di cermin. Di kantor, Anda bisa menggunakan e-mail.
* Maksimalkan waktu Anda dengan teman-teman dan keluarga, toh Anda bisa menikmati waktu sendiri nanti.
* Siapkan pertanyaan atau materi presentasi, dan berlatihlah membacanya sebelum presentasi dimulai. Cara ini akan membantu Anda untuk lebih terlibat dalam aktivitas yang sedang dilakukan, dan membuktikan bahwa Anda bisa menjadi aset berharga bagi perusahaan.

sumber midori-tokodai.org

Karena posting kali ini panjang (pertanda copy-paste :P ), agak cape bacanya klo ga ada backsound. Jadinya aku kasih theme song utk posting kali ini.
DEEP – Mirai e no Tobira

Artikel ini adalah artikel diterbitkan di majalah Jepang, Nikkei Kids. Bbrp mahasiswa asal Indonesia di Tokyo menerjemahkannya ke dalam bhs Indonesia.
Semoga memberikan wawasan dan inspirasi kpd kita yang beruntung bisa hidup di negeri Muslim, negeri yg heterogen, yg memahami toleransi.
——————-

Kalau di sekolah anak Anda ada anak yang memakai scarf atau berpuasa, apakah Anda akan terkejut? Tapi tidak akan ditemui perasaan khawatir di wajah anak-anak itu, yang belajar, bermain, tertawa bersama anak-anak Muslim (pemeluk Islam).

Tahukah Anda apa masalah kehidupan sehari-hari para Muslim?

1. Saya berputar-putar mencari TK yang membolehkan anak saya tidak makan daging babi.

Tiga setengah tahun lalu, Aga Mari-san, Muslim Jepang yang suaminya berasal dari Kenya, kebingungan mencari TK untuk anak perempuan pertamanya yang saat itu berusia dua setengah tahun, Aisya (sekarang 6 tahun). Di dalam Islam, ada makanan-makanan tertentu yang tidak boleh dikonsumsi, seperti daging babi, sehingga bagi Muslim cukup sering mereka tidak bisa makan menu makan siang dari TK. Agar bisa makan sesuai ajaran agamanya, maka Mari-san berharap ada izin khusus agar anaknya bisa membawa bento dari rumah. Mari-san yang tinggal di prefektur Tochigi akhirnya mencoba menanyakan lima TK yang terdapat di lingkungan rumahnya, tapi hasil yang didapatkan hampir semua negatif: “Tidak bisa mengizinkan bila alasannya agama”, “Bila alasannya alergi diperbolehkan”, “Kasus seperti ini tak ada sebelumnya”. Karena tak ada pilihan lain, Mari-san memutuskan untuk melupakan niatnya menjelaskan mengenai Islam dan memasukkan Aisya ke TK yang membolehkan alasan alergi, ketika suaminya, Muhammad-san dipindahkan oleh perusahaannya ke Tokyo.

Kembali, Mari-san harus mencari lagi dari nol.
Berbekal pengalaman dari Tochigi, Mari-san kemudian menahan diri tidak menyebut tentang Islam ketika mencoba ke TK-TK lain. Tapi setelah menetapkan hati, Mari-san memberi tahu ke kepala sekolah dari TK yang mereka incar bahwa mereka Muslim. Gayung bersambut, justru kemudian kepala sekolahnya yang memulai mengizinkan mereka membawa bento dari rumah ketika masuk ke pembahasan aturan makan siang di TK. Juga kalau ada kegiatan di TK yang tidak bisa dihadiri karena alasan agama, sang kepala sekolah menawarkan, “Tolong jangan ragu menghubungi saya”. Setelah ditanya, ternyata sebelumnya juga pernah ada anak Muslim yang sekolah di TK tersebut.


Keterangan gambar: Aga Aisya-chan, sedang membaca Qur’an di sebuah masjid di Tokyo. Meskipun di Jepang (dengan Muslim yang minoritas), banyak masjid yang punya kelas-kelas untuk anak-anak.

Terhadap kehidupannya sekarang yang sudah tidak perlu bersusah payah untuk urusan agama, Mari-san berkomentar, “Saya pikir kehidupan saya yang sekarang diberkahi. Sungguh, perbedaannya bagaikan langit dan bumi”. Tidak hanya TK saja, tapi lingkungan sekitar dan teman-temannya pun sudah mulai bisa menerima. Dulu, bila Mari-san keluar dari rumah dengan scarf bisa menjadi bahan obrolan ibu-ibu sekitar, sehingga ia lebih sering menutup diri di rumah. Dibandingkan masa-masa itu, maka sekarang sudah jauh lebih baik.


Keterangan gambar : Di sebuah SD di prefektur Saitama, Fayyaz Adiq-kun, asal Pakistan, menunjukkan isi bento-nya ke teman sekelasnya.

2. Teman-teman sekelas: “Saya ingin berteman denganmu”

Apa yang paling terlihat beda dari Ooki Michiyo-san (12 tahun), seorang murid SMP di Yokohama, bagi orang-orang yang tidak mengenalnya? Mungkin pakaiannya, yang sangat “mencolok” dibandingkan yang lain. Sebagai seorang Muslim, Michiyo sudah memakai scarf sejak kelas 3 SD untuk pergi ke sekolah, ditambah tights hitam di bawah rok agar menutupi kakinya. Tapi bagi temannya sejak kelas 2 SD, Yamamoto Misaki-san (12 tahun), Michiyo tidak ada bedanya dengan dirinya atau teman-temannya yang lain, dan tetap merupakan sahabatnya. Terkadang ia bahkan tidak merasakan adanya perbedaan sama sekali.


Keterangan gambar: Sejak SD, Ooki Michiyo-san sudah memakai scarf ke sekolah. Para orang tua menyebut kalau pihak sekolah akan memahami bila dijelaskan alasannya (atas). Michiyo tergabung dalam klub voli. Ayahnya, Hirofumi-san, meminta pihak sekolah untuk tidak memberlakukan Michiyo secara spesial hanya karena dia Muslim (bawah).


Keterangan gambar: Pertemanan anak-anak dimulai dari saling mengerti satu sama lain. Di SD Kurono, diizinkan bagi siswa untuk menggunakan ruang kelas Amigo bila ada yang meminta izin. Walaupun keluarga yang meminta izin masih sedikit, tapi pihak sekolah sekarang mudah untuk mengizinkan karena banyak kelas yang kosong akibat rendahnya tingkat fertilitas di Jepang.

“Kelihatannya saya sudah terbiasa. Pertama kali mungkin banyak sekali keraguan, tapi sekarang sih sama sekali tidak terasa. Sudah menjadi hal yang lazim,” ungkap Misaki. Tentu saja Michiyo menjelaskan tentang kegiatan ibadahnya dan alasan kenapa dia tidak makan makanan tertentu. Tapi perbedaan di antara mereka tidak menjadi halangan bagi persahabatan. Mereka tetap bercengkerama dengan teman-teman gengnya ketika jam istirahat sekolah, dan mereka juga bermain voli di klub voli.

Walaupun begitu, persahabatan mereka tidak terbangun begitu saja secara alami. Michiyo, yang pindah sekolah dari Malaysia ketika kelas 2 SD, hampir tidak bisa bahasa Jepang ketika itu, sehingga sangat sulit untuk bisa berteman. Ibunya, orang Indonesia, berpikir bahwa mungkin saja teman-temannya menghindari Michiyo karena dia adalah Muslim.

Tetapi sebelum libur musim panas, dari guru wali kelasnya, ibu Michiyo kemudian paham bahwa itu hanya salah sangka. Anak-anak di kelas bilang kalau mereka ingin bisa ngobrol dengan Michiyo-chan, ingin berteman, lalu mereka menanyakan ke saya, “Tapi kami tidak tahu bagaimana memulai obrolan. Bagaimana, Sensei?’” Begitulah penjelasan sang wali kelas ke Hirofumi-san, ayahnya. “Tampaknya ada kesalahpahaman akibat prasangka satu sama lain,” jelas sang ayah.

Setelah Michiyo sudah bisa menghapal beberapa kosakata bahasa Jepang, dia kemudian percaya bahwa dia harus melakukan komunikasi yang proaktif ke teman-temannya. Karena untuk menghilangkan kesalahpahaman, memang harus dari diri kita sendiri yang melangkah maju.

3. Menu makan siang, kolam renang, kekuatan doa, dan usaha pihak sekolah dan guru

Di SD Kurono di Gifu, biasanya setelah selesai pelajaran renang, anak-anak, dengan dibalut handuk, akan keluar dari kolam renang dan kembali ke kelasnya. Tapi di antara mereka ada tiga anak yang justru pergi ke ruangan lain.

Ada sebuah ruangan kelas yang dinamakan Amigo di sekolah tersebut, yang diperuntukkan khusus untuk anak-anak asing. Salah satu sudut ruangan tersebut dijadikan tempat ganti pakaian untuk anak Muslim. Dalam Islam, walaupun sesama laki-laki, adalah hal yang tidak baik untuk menunjukkan bagian tubuh antara pusar dan mata kaki. Dan untuk perempuan, jamak dipahami bahwa ada lebih banyak hal yang perlu diperhatikan. Tidak cukup hanya dengan berganti pakaian di kamar locker guru perempuan, tapi mereka juga perlu menutup lengan dan kakinya dengan pakaian renang khusus. Selain itu, untuk menjaga kehormatan perempuan, mereka juga harus menutup semua bagian tubuhnya kecuali tangan dan muka di depan laki-laki lain selain anggota keluarganya.


Keterangan gambar: SD Kurono di Gifu menggunakan papan menu dengan label “豚” (babi) untuk menunjukkan bila ada makanan yang menggunakan daging babi, lard (minyak babi) atau bahan makanan lain yang berasal dari babi. Bila diperhatikan, di karuta (permainan kartu untuk anak-anak) Islam banyak terdapat nilai-nilai yang mengandung perpaduan budaya Islam dan budaya Jepang.

Yanagizawa-san, yang bertugas sebagai penanggung jawab pelajaran bagi anak-anak asing, tidak hanya melayani Muslim, tetapi juga merangkum hal-hal mengenai ajaran Islam serta kewajiban sebagai Muslim, lalu membagikannya ke rekan kerjanya. Yanagizawa-san mendorong pihak guru untuk memahami Islam. Menurutnya dalam bersinggungan dengan budaya lain, hal penting yang perlu dilakukan pertama kali adalah memahami.

Hal-hal seperti ini bisa terjadi karena memang SD Kurono berada di dekat sebuah universitas, sehingga anak-anak dari mahasiswa asing banyak yang sekolah di sekolah tersebut. Ini membuat interaksi dengan anak-anak asing menjadi hal sehari-hari di SD Kurono. Bila dalam kehidupan sehari-hari anak-anak memiliki pertanyaan mengenai kebiasaan atau cara berpikir, atau mengalami pergesekan budaya, hal ini dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk belajar, dan mengajarkan mengenai budaya. “Saya pikir anak-anak SD Kurono sangat beruntung dalam hal ini,” jelas Yanagizawa-san.

Guru yang mengambil terobosan seperti Yanagizawa-san masih sedikit. Tetapi orang tua Muslim mulai merasakan perubahan di sekolah, yang sebelumnya memperlakukan semua anak dengan cara yang sama. Misalnya, sekitar 4-5 tahun lalu ada yang melarang orang tua yang membawakan anaknya bento sebagai pengganti menu makan siang yang disediakan sekolah. Tetapi sekarang sudah hampir tidak ada lagi yang melarang. Keluhan dalam membesarkan anak di Jepang mulai berkurang, meski sedikit demi sedikit.

4. Orang tua dan anak yang mencemaskan perbedaan dengan orang Jepang

Meskipun orang-orang di sekeliling berusaha memahami, masih ada masalah yang sulit diselesaikan. Beberapa orang tua Muslim tidak dapat menerima beberapa hal di Jepang, dengan komentar seperti “tidak dapat menerima pelajaran berenang yang tidak memisahkan laki-laki dan perempuan”, “tidak menyukai media atau jalanan yang dipenuhi dengan informasi berbau seksual”, “tidak dapat mendidik agama anak dengan lingkungan seperti Jepang”. Tak mengherankan, saat anaknya melanjutkan ke jenjang SMP, tidak sedikit orang tua yang tidak melanjutkan pendidikan anaknya di Jepang lalu mengirim anaknya ke sekolah di luar Jepang, seperti di negara asal orang tuanya.

Di lain sisi, anak-anak mengalami konflik identitas. Afridi Masayo-san yang tinggal di Nagoya mengungkapkan kesulitan yang dialami putranya, 7 tahun, sebagai Muslim Jepang. “Biasanya kalau sedang di rumah kakek, kami makan makanan Jepang seperti biasa. Lalu, saat anak saya hendak mengambil makanan, saya otomatis mengingatkan, ‘Yang ini tidak boleh; yang ini juga tidak boleh’. Anak sulung saya kemudian berujar, ‘Kenapa saya bukan orang Jepang, Ibu?’” Melihat hal itu, Masayo-san menjadi khawatir, jangan-jangan di sekolah pun anaknya merisaukan perbedaannya dengan teman-temannya.


Keterangan gambar: Memahami perbedaan budaya sungguh suatu kekayaan. Motohashi Salisa dari Ghana sedang berdoa sementara teman-teman anaknya bermain pakai topeng. Barangkali bagi anak-anak yang sejak kecil sudah terbiasa dengan perbedaan, perbedaan adalah hal yang wajar.

Qureshi Azuka-kun (17 tahun), juga dari SMA di Nagoya, bercita-cita ingin berkarir di bidang fashion di masa depan. Di hari libur, biasanya bersama teman-temannya dia berkeliling ke butik-butik mode. Dia juga sangat memperhatikan penampilan—di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, selalu berdiri di depan cermin selama puluhan menit untuk menata rambutnya.

Walaupun terlihat seperti umumnya anak SMA yang sangat peduli dengan penampilan, tapi alasannya berbuat demikian, menurutnya, adalah agar dia bisa diterima oleh teman-temannya. Pada kenyataannya, hal ini bukan karena dia tidak terbiasa dengan keadaan sekeliling sehingga menjadi susah beradaptasi, ataupun selalu merasa berbeda dengan teman-temannya. Tapi contohnya, ketika dia sedang puasa seorang diri di saat teman-temannya makan siang, maka perbedaan tersebut walaupun tidak disengaja akan nampak. “Saat teman-teman saya bertanya kenapa tidak makan, ternyata memang tidak mudah (kondisi tersebut) buat saya” jelas Azuka.

5. Prasangka buruk kepada Muslim yang tidak kita sadari

Matsumoto Takaaki-san, guru ilmu sosial di sebuah SMA negeri, selama 3 tahun mengadakan survei mengenai Islam kepada murid-murid tahun pertama di 20 sekolah di daerah Tokyo dan Kanagawa. Hasilnya ternyata menunjukkan bahwa mayoritas memiliki opini negatif terhadap Islam, seperti “tidak fleksibel” dan “memiliki kebiasaan aneh”. Bahkan murid yang mengetahui lebih banyak tentang Islam justru menunjukkan kecenderungan opini negatif yang lebih besar. Terhadap hal ini, Matsumoto-san berpendapat bahwa bisa jadi banyak misinformasi tentang Islam di masyarakat.

Misalnya, walaupun puasa diwajibkan bagi Muslim, tapi ada pengecualian terhadap yang sedang hamil atau sakit (mereka tetap harus menggantinya setelah melahirkan atau sembuh). Hal ini menunjukkan bahwa perintah agama bisa menjadi fleksibel menyesuaikan realitas kehidupan yang ada. Lalu, salah satu alasan melaksanakan puasa tersebut bagi Muslim adalah agar mereka bisa merasakan perasaan orang miskin. Sehingga memang sangat besar peluangnya orang memiliki prasangka buruk terhadap Islam sebelum mengetahui “wajah aslinya”.

Untuk menghilangkan prasangka buruk, ada baiknya kita mencoba memulai dengan mencari titik temu antara Muslim dan kita. Kalau kita lihat karuta (sejenis permainan kartu Jepang) Islam, yang didesain khusus untuk mengajarkan nilai keislaman ke anak-anak, pada kartu “ki” (き) akan kita jumpai pesan moral “Kikimasen, iimasen, otomodachi no kageguchi wa” yang berarti “Kami tidak akan mendengarkan dan membicarakan gosip tentang teman”. Lalu di kartu “ke” (け) tertulis: “Kenka wo shitara sugu nakanaori. Minna nakayoshi. Islam no ko” yang berarti “Kalau berantem segera baikan. Kita semua teman. Kita anak Muslim.” Tidakkah ini berbeda jauh dengan kesan “tidak fleksibel” dan “memiliki kebiasaan aneh”?


Keterangan gambar : Aga Mari-san, berbincang dengan teman-temannya di sebuah taman. Ada Muslim yang khawatir dengan interaksinya dengan tetangga, tapi ada juga yang beruntung mendapatkan teman-teman yang bisa mengerti (kiri-atas). Anak-anak Muslim sedang berenang dengan memakai pakaian renang yang menutupi kepala, lengan, serta kaki (kanan-tengah). Sesaat sebelum berangkat kerja, Aga Muhammad-san, sang ayah, mengisi lembaran yang akan diserahkan Aisha-chan ke TK (kanan-bawah).

6. Agar anak-anak dibiasakan dengan perbedaan budaya

Mari kita menerima cara hidup anak-anak Muslim. Ini tidak hanya membawa kebaikan yang bermakna besar bagi anak-anak Muslim tapi juga bagi kita, orang Jepang, karena kemampuan memahami perbedaan budaya sudah dianggap sebagai salah satu keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja.

Maruyama Hideki-san, peneliti senior di Institusi Nasional untuk kebijakan pendidikan, menjelaskan, “Kemampuan kita untuk beradaptasi di lingkungan yang heterogen akan diakui di era globalisasi ini”.

Kaneyama Saho-san, yang masuk Islam sejak SMA, terlibat banyak di pendidikan anak-anak penyandang cacat. Pendapatnya, “Misalnya hal yang berbeda dari diri kita, atau hal yang berbeda dengan yang selama ini kita tahu—keanekaragaman itu pasti memiliki arti atau sebuah nilai, menurut saya. Bukankah itu termasuk sebuah anugerah? Saya pikir, hati yang bisa menerima perbedaan itu sendiri juga termasuk anugerah”.

Catatan Editor, 19 Desember 2010

Artikel ini pertama kali diterbitkan di majalah Nikkei Kids Plus, edisi bulan pertama 2010, dengan judul “日本で暮らすムスリムの子”
Link : http://www2.dokidoki.ne.jp/islam/photo/10kids.htm

Penerjemahan dilakukan secara keroyokan oleh nama-nama di bawah ini—semuanya mahasiswa di Tokyo Institute of Technology:
* Adiyudha Sadono
* Reza Aryaditya
* Priangga Perdana Putra
* Aulia Averrous
* Isa Ansharullah

It’s not easy to be me

Dear Haris in the future,

Ya, nampaknya judul di atas berlaku bagi siapa pun yg hidup di dunia, bagi tukang becak, mahasiswa, karyawan, hingga clark kent si superman sekali pun hehehe.. Menjadi AKU adalah hal yang paling sulit dalam fase kehidupan manusia. Banyak pertentangan yg terjadi, yg justru kebanyakan adalah pertentangan dengan dirinya sendiri.

Seperti thn2 sebelumnya, aku membuat tulisan ini di akhir tahun sbg rangkuman ttg kehidupanku di tahun 2010 dan juga sebagai muhasabah (instrospeksi). Telah banyak yang terjadi di tahun 2010 ini, lebih tepatnya banyak achievement yg telah aku dapatkan pd thn ini. Sejak awal, tekadku ke Jepang tidaklah hanya utk dpt ilmu dan meraih gelar master, tp lbh dari itu aku ingin mendapatkan semua yg tdk bisa aku dapatkan dgn mudah di Indonesia. Sebagai contoh, menguasai bermain ski yg tidak mungkin bisa aku capai di Indonesia (ga penting hehe :P ).

Aku masih ingat bgmn aku mengawali thn 2010 dengan sakit flu pd bulan Januari, trus bln Februari UAS pertama di Tohoku Uni yg mana aku ngambil 7 kuliah + 3 kelas bhs Jepang + Seminar books reading & presenting di lab, bolak-balik kampus Aobayama-Katahira musim dingin pulak. Masa2 terberat di thn pertama master, tp alhamdulillah semuanya lulus dgn nilai yg cukup baik. Akhir Feb aku pindah dari asrama ke regular apato, yg mana waktu itu aku baru pulang dari seminar kerja di tokyo, blum sempet tidur langsung angkat2 barang, untung ada yg nyetirin mobilnya.

Di bln Maret aku untuk pertama kalinya ikut ujian SIM moped (motor 60cc), dan ga disangka2 langsung lulus pdhal kebanyakan org2 Indo bahkan org Jepang sekalipun sgt jarang yg bs langsung lulus dlm sekali coba. Yg tambah bikin menarik, waktu itu cuma aku yg ujian dlm bhs Inggris. Bhs Inggris bagi orang Jepang adalah sesuatu yg luar biasa. Hasil ujian yg bhs Jepang ditampilin di monitor, sdgkan hasil ujian yg bhs Inggris diumumin lewat loudspeaker. Karena cuma aku satu2nya yg ujian bhs Inggris, semua orang dlm satu ruangan tau semua klo itu aku. Klo mereka liat aku ini orang bule, mereka ga heran.. tp ini org Asia boi.. ujian dlm bhs Inggris dan lulus pulak.. hihihi

Bln April aku ngambil sisa kuliah, aku ngambil 4 kuliah + 1 kelas bhs Jepang + Seminar books reading & presenting di lab. Betool sodara2 gw msh ngambil seminar krn Asst Prof yg membimbing seminar ini strict dan perfectionist bgt. Bayangkan tiap minggu aku presentasi 4~5 jam untuk nurunin rumus fisika. Cape bukan main pdhal cuma 1 buku yg ingin kita bahas, tp lbh dari 10 buku yg dibaca. Dan aku dikejutkan oleh perkataan sang Asst Prof yg bener2 kasar saat seminar -.- Oiya tentang kuliah, karena kuliahnya dlm bhs Jepang semua, dan gw kagak ngarti, akhirnya gw manfaatkan waktu di kelas untuk mengahafal kanji, dan alhamdulillah aku berhasil mengahafal skitar 1000 karakter (kyknya lebih deh) huruf kanji hanya dlm waktu bbrp bulan sahaja.

Bln Mei ga ada yg begitu special. Bln Juni aku mulai intens belajar bhs jepang karena akan ikut JLPT pd bln Juli dan saat yg bersamaan aku disibukan dengan mencari informasi Internship perusahaan Jepang dan SEMINAR geblek itu.. Awal bln Juli akhirnya seminar selesai, lebih tepatnya dipaksakan selesai karena selama hampir setahun seminar berjalan kami hanya bisa selesai 5 bab dari 13 bab yg ada di buku itu (5 bab aja udah pengen muntah2 -.-). Di saat yg bersamaan aku ikut ujian JLPT N3, giri2 save lah karena aku blum selesei belajar semuanya. Tengah bulan Juli aku dipanggil wawancara internship ke Panasonic setelah seleksi dokumen dinyatakan lulus. Wawancara pertamaku dlm bhs Jepang dan pertama kalinya sendirian ke Tokyo.. capek, stress, panas pulak. Akhir Juli aku ikut ujian TOEIC yg mana sehari setelah ujian TOEIC adalah UAS sodara2.. Akhirnya aku ikut TOEIC tanpa belajar sedikit pun karena lbh peduli dgn UAS yg mana sejak awal tidak mungkin aku bs dpt nilai sgt bagus, dosen killer plus ujian berbahasa jepang,, mana ngerti gw istilah2 scientific.

Akhirnya berakhir juga kegilaan di bln Juli dan alhamdulillah ternyata aku keterima Internship di Panasonic Osaka. Awal bln Agustus aku memulai risetku dengan pembimbing Asst Prof (tp bukan si geblek itu), dia asst prof orang rusia. Tengah Agustus sebelum berangkat internship aku bantuin mba Emmy, ngobrol ama org Jepang dlm bhs Jepang untuk thesis beliau. Dibilang bantuin, ga jg sih, soalnya aku jg merasa terbantu meningkatkan skill bhs Jepang. Akhirnya aku berangkat ke Panasonic Osaka utk internship ampe tengah September. Osaka panas gilaaa,, hidup di suasana baru, suasana pabrik, suasana orang kerja, susah komunikasi, susah cari makanan halal, bln Romadhon pulaaaaak.. suteresu deshita.. Oiya di bln Sept ini aku dpt kabar lulus JLPT N3 (84% lho hihihi :P ) dan dpt score TOEIC 875, not bad lah utk orang yg dtg dari kampung spt gw hehehe..

Perjuangan bhs Jepang gw ga terhenti di situ, bln Oktober gw daftar lg JLPT N2. Karena bln Okt ini risetku dah mulai intensif, sedikit waktu utk bisa belajar bhs Jepang. Ditambah lagi aku ngambil kelas Syuushoku (cari kerja) dan harus ikutan bnyk seminar dari perusahaan2 gitu. Jadinya aku ga sebegitu bnyk improved dlm Jepang. Bln November aku tambah ganteng eh salah, tambah stress,, risetku khawatir ga beres ampe awal Des soalnya aku dah keburu daftar ikut conference. Akhirnya ga ada jalan lain selain memangkas waktu nonton dorama demi riset :P

Begitu terus hingga awal Desember datang, yg mana langsung disambut dengan ujian JLPT N2.. mak jang. Boro2 mikirin JLPT, riset gw blom rampung sodara2. Akhirnya ujian JLPT beres dan gw bikin poster presentasi dgn setengah data yg udah gw punya. Datanglah itu hari conference, aku sih sgt berharap bisa dpt best poster award, tp ternyata aku sangat naive.. aku bertanding dng puluhan poster lainnya yg jelas2 sdh published di Jurnal, jelas kalah telak. Tp harus aku akui design posterku adalah yg tercantik di antara semua poster lainnya. (hihihi.. tetep ga mau kalah :P ). Kebetulan conference kali ini, lab aku sendiri yg ngadain karena Prof ku adalah salah satu jagonya Komputasi Design Material di dunia. Nah, jd semua student di lab termasuk aku ikut bantu2 ngangkat barang, ngambil foto, dll. Bahkan sampe conference berakhirpun cuma aku di antara student yg msh bekerja. Aku disuruh upload photo2nya di website lab, yg mana kita punya 3.6 GB of photo. Bayangkan gw sendirian harus seleksi semua photo itu, harus edit, trus bikin HTML page-nya, dah pengen muntah2 gw ngedit ribuan foto. Stelah beres semua ini, ada satu hal yg bikin kelelahan tanpa gaji ini hilang seketika,, yaitu perkataan prof, “You are a good person, who should be successful anywhere!!” Wowow… si sensei nampaknya terharu liat ada student dari negeri tarzan cem Indonesia yg kerja di luar ekspektasi-nya.. hahaha.. maitana ore ha
“If someone like you is not successful, there must be something wrong with this world” [churasan]

Hingga di sini lah aku sekarang, di penghujung tahun, dan masih mengerjakan risetku dgn harapan bisa dipublished ke Jurnal, dan juga sedang menulis berbagai dokumen versi Japanese dan English untuk aplikasi kerja.

Semoga semakin bnyk achievement yg bs aku dpt di tahun depan. Mohon doanya ^^
Selamat tahun baru :D :D

It’s not easy to be me, but not so difficult :P

Seminar Buku Kittel yg Melelahkan

SIM moped (gencha)

Badminton bersama tmn2 PPIS

Nonton baseball

Tari saman

Internship Panasonic

Poster presentation

Hanabi Sendai

Ski at Jangle Jungle

24 Tahun Aku Kini

Dear haris in the future,

Baru saja aku melewati proses seleksi internship di Panasonic yang terdiri dari seleksi dokumen dan wawancara. Pada seleksi ini banyak sekali pertanyaan mengenai pandangan terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Bagiku inilah pertama kalinya aku berpikir dengan serius dan menuliskannya dalam secarik kertas mengenai siapa aku, apa kekuatanku, apa kelemahanku, dan apa yang telah aku lakukan dan telah aku lalui selama ini sehingga menjadikanku seperti apa aku saat ini. Semua yang aku pikirkan dan aku lakukan saat ini adalah hasil dari seluruh perjalanan hidupku sejak lahir. Dan kini aku merasakan betapa bersyukurnya aku mendapatkan pendidikan yang baik karena kini aku telah menjadi apa yang aku banggakan.

Hingga aku menemukan pada pamflet Panasonic sebuah kalimat bertuliskan “Global Challenger” yaitu sederetan kriteria karakter manusia yang dicari oleh Panasonic. Karakter seorang global challenger menurut Panasonic dibagi dalam tiga bagian sebagai berikut:
1. High Aspiration,
Global mind set, Enthusiasm and ambition, dan Integrity
2. Distinctive Strength,
Own axis, Expertise, dan Communication skills
3. Power to Act,
Perserverance, Step by step, Vitality
Komentarku spontan tidak lain adalah “Apa ada manusia yang sesempurna ini?” Aku ga yakin (geleng2 + ciut). Bukankah setiap orang dilahirkan dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing? Tapi jikalah memang ada manusia seperti itu, maka aku tak heran perusahaan sehebat Panasonic bisa tercipta.

Tapi ketika aku membaca filosofi human development yang diterapkan di Panasonic aku mulai mengerti bahwa kesuksesan Panasonic adalah sesuatu yang benar-benar marvelous. Filosofinya adalah “Create people before creating products”. Ternyata Panasonic pun menyadari betapa tak ada manusia di dunia ini yang lahir tanpa kekurangan.

Aku selalu percaya bahwa semua di dunia ini ada waktunya masing-masing. Ketika kita masih anak-anak, jadilah anak yang bermain ke sana kemari. Ketika kita masih seorang pelajar, jadilah pembelajar yang banyak melakukan kesalahan tanpa takut. Ketika kita mulai memiliki tanggung jawab atas profesi, jadilah kontributor yang baik dalam masyarakat. Lakukanlah sesuatu secara bertahap, dari anak tangga terendah hingga tertinggi. Marasakan kebahagian di setiap kesuksesan-kesuksesannya ketika berhasil naik satu anak tangga. Proses yang dikenal “Don’t try to run before you can walk” inilah yang akan membuat seseorang bisa lebih menghargai dirinya sendiri.

Pada hari ini tepat pada hari ulang tahunku dan adikku yang ke-24 dan ulang tahun ibuku yang ke-57. Di usiaku ini klo menurut Alm. Ayah adalah usia ketika laki-laki menuju akil baligh atau dewasa.
24 tahun Allah SWT memberikan kesempatan aku hidup bersama keluarga dan teman-teman terbaik
24 tahun aku hidup menaiki anak tangga satu per satu dan menikmati setiap kebahagian dan kesedihannya
24 tahun perjalanan hidup yang telah menjadikan aku seperti sekarang ini
Aku sangat bersyukur untuk ini semua

Life is like a piano, the white keys represent happiness and the black show sadness. But as you go through life’s journey, remember that the black keys also create music.. (credit of this sentence goes to Reisha.. 書いてしまった。。ごめんね)

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.