Dear Haris in the future,
Sore itu sepulang solat jumat di Mesjid Sendai yg letaknya cukup jauh dari pusat kota, aku dan 2 orang temanku selab pergi makan siang ke restoran Italia langganan kami di Ichibancho, dan kami masih memperbincangkan tentang katastropi atau bencana alam yg akan terjadi di sendai mengingat sejarah terjadinya gempa besar Miyagi yg legendaris dan posisi bulan yg akan mencapai jarak terdekatnya dgn bumi dlm bbrp hari ke depan. Perbincangan ini semakin menarik dan terus kami lanjutkan karena tgl 9 Maret (2 hari sebelum tsunami) Sendai dihantam gempa 7.2 SR siang hari, tp hanya sebentar saja yg kemudian disusul kembali gempa yg cukup lama keesokan harinya pd tanggal 10.
Masih di dalam restoran Italia tersebut, kami menghabiskan pasta dan pizza yg kami pesan, kemudian sekitar jam setengah tiga saat kami akan membayar bill-nya dan kembali ke lab kami dikejutkan kembali oleh gempa. Awalnya aku pikir ini biasa saja, tp aku merasa ada yg berbeda pd gempa kali ini. Aku masih ingat pd saat itu aku berkata pada temanku “This one is big.. this one is big” berulang2 utk mendaptkan konfirmasi bahwa bukan aku saja yg meraskan bahwa gempa kali ini sgt besar. Seketika aku dan temanku berlindung di bawah meja. Piring dan gelas sudah ada yg berjatuhan ke lantai kemudian pecah. Namun orang2 jepang di sebelahku masih saja duduk di atas kursinya. Setelah lampu padam dan semakin banyak suara pecahan piring terdengar, barulah semua orang berlindung di bawah meja sambil mereka berteriak “Kowai.. kowai” sedangkan kami bertiga membaca doa dan ayat kursi.
Gempa belum juga usai, kami msh di dalam restoran di lantai 2. Aku tahu bahwa ketika bangunan runtuh karena gempa dia tidak akan miring dan jatuh ke samping melainkan runtuh ke bawah, sehingga saat itu aku sdh siap2 akan jatuh ke lantai 1 dan siap menerima puluhan ton material yg akan menimpaku dari lt 3 dan 4. Tapi syukurlah hal buruk yg aku pikirkan itu tidak terjadi. Gempa berhenti dan kami langsung keluar ruangan menuju lt 1 tanpa membayar apa yg sudah kami santap (yatta..
). Kami menuju sendai station di jalan besar sebelum kembali ke lab utk menghindari adanya runtuhan bangunan. Selama kurang lebih satu jam kami berada di jalan krn gempa susulan msh terus menggoyang kami.
Akhirnya kami memutuskan utk kembali ke lab. Sepanjang jalan aku perhatikan pd umumnya bangunan msh utuh, dan aku walaopun sdh 2.5 thn tinggal di Jepang aku msh sgt mengagumi kehebatan org jepang dlm membuat bangunan. Kerusakan yg aku lihat hanyalah sumber listrik lampu lalu lintas yg terbakar, kemudian bbrp tiang lampu yg rubuh, lalu kaca2 toko yg pecah. Kami sampai di lab dengan menaiki tangga hingga ke lantai 7 krn lift yg biasa kami pakai rusak. Di lt 7 khususnya ruangan tempatku bekerja, semua barang2 berantakan luar biasa. Di lt 7 ternyata guncangan terasa lebih besar drpd di lt 2 sehingga membuat barang2 di labku berantakan tak beraturan. LCDku jatuh menghantam badan CPU yg aku rasa LCD itu pasti rusak, tp tdk sempat aku cek lantaran aku hanya berpikir utk mengambil helmku dan dokumen2 penting miliku dan segera keluar krn saat itu aku yakin bs kembali lg ke lab dlm bbrp hari ke depan utk mengecek dan mengambil data2 thesisku.
Tp ternyata perkiraanku meleset, setelah kami bertiga pulang ke apato salah seorang teman kami, kami disuruh utk mengungsi ke aula sekolah terdekat dan tidak diperkenankan masuk kembali ke lab hingga waktu yg tak ditentukan. Saat itu aku tidak tau jika tsunami sudah menghantam Sendai timur & selatan (wakabayashi & Nattori) sedangkan aku tinggal di Sendai tengah (Aoba). Kemudian aku menyadarinya ketika aku berbicang dengan obaa-chan yg mengantarkan kami ke sekolah tersebut. Aku diungsikan ke SD Katahira malam itu bersama 2 orang temanku dan 1 keluarga org India yg baru kami kenal di jalan dan tentu saja bersama dgn orang2 jepang yg tinggal di daerah itu.
Di dalam ruang pengungsian itu, kami orang asing sedikit dimanjakan oleh orang2 jepang yg ada di sekitar kami. Awalnya aku berperan sebagai penyedia internet dan penerjemah informasi2 utk tmn2ku karena hanya aku yg memakai iPhone dan mengerti bhs Jepang. Kemudian seorang ibu orang jepang di belakangku yg kulihat sedari td memangku anaknya sembari duduk memuji skill bhs jepangku “Nihongo bacchiri da ne” katanya. “Ie ie” aku balas. Kemudian kami diberikan biskuit dan minuman oleh organizer, dan si ibu itu selalu mendahulukan kami utk mendapatkan biscuit dan air minum. Bahkan saat akan tidur pun si ibu itu selalu menggeser posisinya agar kami mendapatkan space utk tidur, semalaman aku tidur-bangun karena kedinginan dan posisi tidurku yg tdk nyaman, selam itu aku perhatikan si ibu itu tidak pernah tidur, dia tetap duduk di atas tikar memangku anaknya yg sdg tidur. Luar biasa. Adakah ibu spt ini di Indonesia?? Tp aku yakin semua ibu memang luar biasa, namun yg satu ini benar2 luar biasa.
Kami bangun sgt pagi skitar jam 5 (musim dingin jam 5 terasa gelap sekali). Begitu terang aku pergi ke toilet, tp sesampainya di toilet aku hanya bs berkata “Toilet lbh nyaman digunakan jika gelap” Ya, itu karena toiletnya semakin kotor karena tidak mengalirnya air bersih. Kemudian apgi itu aku pulang ke apato-ku setelah mendapatkan onigiri gratis. Aku kembali ke apato utk mencharge iPhone ku di laptop yg msh ada sisa batere dan utk ganti pakaian. Tadinya aku berniat membeli makanan ke supa tp ternyata semua toko tutup, sehingga setelah ditelpon oleh Dian aku memutuskan utk bergabung ke tmpt pengungsian dimana orang2 international termasuk org2 Indonesia berkumpul, Sanjo Junior High namanya.
Aku tinggal selama 2 hari di sekolah itu namun space utk tidur semakin mengecil dgn adanya kehadiranku malam minggu itu, sehingga aku memutuskan utk tidak tidur dan mengobrol dgn mhs asal sweden dan pelaut asal filipina yg baru saja tiba. Bnyk informasinya aku dpt dari mereka yg kebanyakan org Indo ga tau. Ohya malm itu sebelum tidur kami kedatangan tim dari KBRI yg membawa selimut dan matras dalam 2 mobil yg mereka bawa. Ntah apa yg mereka diskusikan di dalam sana dgn tmn2ku, aku tidak ikut bagian dlm diskusi itu karena aku rasa sdh cukup bnyk org yg campur tangan dan lgpula aku tidak suka jika perbincangannya dilakukan di dalam aula dan menganggu orang lain yg ingin tidur. Keesokan paginya hari minggu barulah diputuskan utk mengevakuasi kami semua ke KBRI Tokyo. Keputusan evakuasi ini jelas tdk diterima begitu saja oleh separuh dari kami krn berbagai alasan pribadi dan alasan membaiknya kondisi di Sendai, sehingga menimbulkan cekcok di antara kami. Orang2 sudah mulai lelah dan emosi menjadi labil. Di saat2 seperti inilah sifat sejati seseorang mulai terlihat; ada yg biasa2 aja, ada yg mudah emosi, ada yg heroichollic, ada yg sincerely bekerja keras & membantu org lain, ada yg egois, ada yg oportunis, ada yg menjadi tdk rasional, ada yg tdk peduli, dll. Tp anyway, semua orang punya sifat baik dan buruk, dan dengan segala keterbatasan itu kami berhasil mengevakuasi diri ke Tokyo, dan aku sgt berterima kasih kepada semua yg telah bahu-membahu merealisasikan hal ini. Btw, Keadaan ini membuat aku teringat kembali pelajaran yg aku dan adikku terima selama ospek di ITB .
Yah begitulah ceritaku di hari2 pertama gempa dan tsunami di Jepang hingga akhirnya kami sampai di sekolah republik indonesia tokyo (SRIT) dengan segala kemewahan hospitality-nya, kemudian jalan2 ke Ginza utk mengurus berbagai keperluan dan mengurus Re-entry permit ke Shinagawa selama 8jam mengantri berdiri, lalu pulang ke Indonesia. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua betapa powerless-nya manusia thdp power lain yg mengendalikan semesta alam dan isinya.
@bandung, masih ngerasa goyang2 pdhal ga gempa

Suasana pengungsian di SD Katahira

Paket nasi utk pengungsi Indonesia ditengah2 krisis makanan & gas

Suasana pengungsian di SRIT with pak Dubes

Antrian super panjang di imigrasi tokyo
hey mas haris, syukur alhamdulillah kalo baik2 aja. skrg gmn di sendai? mudah2an baik2 aja dh disana. amin
dah seminggu aku ninggalin sendai.. kabar yg aku dpt bbrp hari terakhir sih makin membaik kondisinya walopun gas blum ada dan makanan msh antri..
amin, semoga sendai dan kota2 lainnya segera pulih.
Selamat malam, mas. Salam kenal..
Saya sedang ada tugas yang membahas tentang gempa n tsunami Jepang, dan kebetulan sekali saya baca tulisannya mas ini.
Mau minta tolong nih, Mas punya link yang bisa memberikan informasi spesifik mengenai keadaan Sendai saat ini?
Terima kasih sebelumnya
Salam kenal Resti,
Aku juga kurang tau klo informasi aktual yg sdg terjadi di Sendai, tp aku selalu baca berita di NHK walopun ga spesifik ttg Sendai sih
http://www3.nhk.or.jp/daily/english/society.html
Maaf ga bs bantu banyak
Salam kenal..
Saya sering mampir k blog ini n mbaca2 tulisan Haris san yg menurut sy menarik skali, terutama tentang kehidupan d jepang..
coz suatu hari nanti sy jg pengen bs kuliah dsana, n kebetulan univ yg sy incar adalah tohoku
Tahun lalu sy sempat apply monbukagakusho, tp blum berhasil.. :p
Pas tau ada gempa + tsunami d sendai, sy jd kepikiran gimana y nasibnya Harisu san??
…Alhamdulillah ternyata baik2 aja n blognya uda d update lg..
Smoga keadaan d jepang, terutama d sendai segera pulih..n masyarakat dsana dberi kekuatan untuk segera bangkit lg.. Ganbatte…(/^o^)/
Salam kenal Arina,
Makasih dah sering mampir dan baca blog saya.
Sip, semoga sukses dpt beasiswa dan kuliah ke Jepang. Banyak bgt pengalaman2 seru di Jepang. Zehi nihon ni kite kudasai
Hehe.. aku aja gatau klo gempa & tsunami hari jumat tuh jd berita international. Orang tua dah khawatir, saya malah tenang2 aja.
Makasih dah khawatir. Alhamdulillah baik2 aja dan akan segera balik ke Sendai lagi.
Amin. Semoga Arina juga bisa segera berangkat sekolah ke Jepang. Hai, ganbarimashou
sallam kenal seli,
terimakasih iya udah mau ceritain suasana gempa dan tsunami djepang
setelah saya membacanya,saya sangat terharu dengan keberani anda dalam menghadapi cobaan itu anda tetap tegar dan tabah.