_dear haris in the future,
Bhineka Tunggal Ika, semboyan bangsa Indonesia. Sedari kecil aku sering mendengar kata-kata ini tanpa tau maknanya secara mendalam. Hal ini mungkin wajar saja karena setiap hari kita bangsa Indonesia hidup dalam keanekaragaman sampe2 kita tidak sadar apa itu kehomogenan. Kita memiliki lebih dari 100 bahasa, 100 budaya, 5 agama. Bahkan Alm. Ayah dan Ibu ku berasal dari dua daerah yg berbeda, dua bahasa dan dua budaya yg berberda. So, keanekaragaman sudah menjadi bagian dari hidupku, bukan hal yg aneh.
Sangat beruntung aku bisa datang ke Jepang, sebuah negara yg sangat homogen dan menjujung tinggi kehomogenan, sesuatu yg belum pernah aku rasakan sebelumnya. Tidak hanya itu, aku lebih beruntung lagi karena aku berada di lab dengan jumlah keberagaman orang asing terbanyak di IMR Tohoku Uni. Bagaimana tidak, lab kami punya orang Jepang, Amerika, Rusia, Iran, China, India, Indonesia, Korea, Thailand, Tunisia, Italia, dll. Menakjubkan sekali, aku hidup di negara homogen tapi di dalam lingkungan heterogen. Selama lbh dari 2 tahun aku berada di lab ini, kini aku menyadari sesuatu; apa itu keberagaman.
Komunitas terbesar di lab kami adalah Jepang, China, India, dan Iran, jd tentu saja mereka yg berbicara satu bahasa akan mengumpul, sedangkan mereka yg minoritas, termasuk aku, mau tidak mau harus berkumpul dgn minoritas lainnya. Setiap siang aku, satu orang tunisia, satu orang korea, dan satu orang thailand selalu pergi makan siang bersama. Dan untuk risetku, secara tidak sengaja aku memilih satu orang Rusia, satu orang Amerika, dan satu orang Iran sebagai collaborators.
Setiap pergi makan siang, yg selalu menjadi pertanyaan pertama kami adalah “Kita akan pergi makan kemana?” Kebetulan dua dari kami adalah muslim, sedangkan dua lainnya adalah budhists. Menerangkan apa itu makanan halal kepada orang beragama jauh lebih mudah daripada menjelaskannya kepada orang tidak beragama spt orang Jepang. Mereka, the budhists, sangat mengerti food restrictions yg kami miliki, bahkan satu dari mereka mengakui bahwa babi itu kotor dan hewan yg disembilih di leher adalah jauh lebih sehat, walaupun dia masih suka makan makanan non-halal itu. Sedangkan yg satu lagi mengalaminya langsung; akibat terlalu banyak minum alkohol sewaktu muda, dia sakit perut, panas badan, tdk nyenyak tidur setiap malam, dan haru minum obat setiap hari. Mereka tidak pernah komplain sama sekali jika restaurant yg kami kunjungi setiap hari itu2 saja, dan mereka tetap pergi makan siang bersama dengan kami hingga hari ini. Satu dari sekian banyak yg lupa aku syukuri selama hampir 3 tahun tinggal di Jepang.
Lain halnya dengan orang-orang China di lab kami yg selalu ngumpul dengan orang China lagi. Kemampuan English mereka tidak meningkat, cara berpikir mereka masih primitif; mereka tidak bisa menerima pandangan orang lain yg berbeda. Walaupun aku akui kemampuan fisika dan kerja keras mereka luar biasa.
Ketika mengerjakan riset, berdiskusi dengan orang Rusia dan Amerika lebih menyenangkan walopun kadang-kadang aku ga ngerti apa yg mereka katakan. Orang Rusia pronounciation dan tata bahasanya aneh, sedangkan orang Amerika berbicara terlalu cepat dan tidak jelas. Berdiskusi dengan orang seiman dari Iran tentu lebih relaxing, tapi seperti kebanyakan orang Asia, orang Iran pun sangat memperhatikan hierarki senior-junior, yg sangat aku benci (tp kadang2 aku juga melakukannya ding hehe).
Bagaimana dengan orang Jepang? Sangat sedikit waktu yg aku habiskan utk berinteraksi dengan orang Jepang padahal aku tinggal di Jepang. Aneh sekali bukan? Tambah aneh lagi, aku yg baru saja mengenal huruf kanji dan jarang ngobrol dgn orang Jepang ini bisa berbahasa Jepang. Tidak fasih memang, tapi senseiku bilang aku adalah mhs asing dari negara non-kanji yg paling jago berbahasa Jepang dalam sejarah 21 tahun lab ini berdiri. Selain karena keterbatasan waktu, alasan lain kenapa aku jarang berinteraksi dgn orang Jepang adalah karena tingkat diversity mereka yg rendah. Bayangkan, mereka tidak suka aku berbicara English karena mereka tidak ngerti. Ok, aku ngomong bhs Jepang sebisaku, tp mereka pun tidak puas karena mereka merasa harus memeras otak utk membuat kalimat yg mudah dimerngerti olehku. Aku pikir mereka egois sekali, tp aku tak bs berbuat apa-apa karena ini tanah mereka. Mungkin klo mereka yg berada di Indonesia dan aku ada di posisi mereka, aku juga mungkin akan melakukan hal yg sama, jadi aku sangat mengerti.
Terlebih lagi, hari ini aku menonton satu drama Jepang yg memperlihatkan bagaimana orang-orang cacat fisik/mental berikutnya sanak keluarganya yg normal pun diperlakukan sebagai orang-orang aneh yg dicemoohkan dan dijauhkan. Apakah gaya hidup mereka yg terlalu kompetitif yg membuat hukum sosial mereka tidak berkeprimanusian spt ini. Hidup di negara maju yg bangsanya tidak mengerti apa itu toleransi rasanya tidak lebih enak daripada hidup di negara miskin tp bangsanya bisa saling menghargai dan menerima satu sama lain.
Berbeda dgn “kegelapan”, yang hakikinya adalah “ketiadaan cahaya”, aku pikir “perbedaan” hakikinya adalah “keberadaan persamaan”.
Syukur alhamdulillah masih diberi kesempatan hidup dan kesempatan utk memaknai hidup hingga tahun yg ke-25.
Selamat ulang tahun Haris.
luar biasa
perbedaan bukanlah ajang perang tapi perbedaan ajang persatuan