Semenjak menjadi seorang karyawan di sebuah perusahaan dan untuk pertama kalinya terjun ke masyarakat dan mengenal apa itu dan bagaimana rasanya bekerja, aku menyadari bbrp hal bahwa
1. selama ini aku telah menjadi orang yg self-centris. demi sebuah idealisme & keinginan-keingananku aku telah tanpa sadar membuat banyak orang berbuat sesuai kehendakku. kini aku tahu bahwa dunia tidak selamanya berputar mengikuti iramaku dan setiap orang punya idealisme masing2.
2. sebuah keadaan mungkin tidak akan berubah sebagaimana pun kerasnya aku berusaha, tapi aku percaya bahwa kerja kerasku telah menghantarkanku menjadi orang yang lebih dewasa dan bijaksana.
3. adanya perbedaan mendasar antara menjadi seorang karyawan & mahasiswa, yaitu karyawan bekerja demi kepuasan pelanggan tapi mahasiswa bekerja demi kepuasan pribadi (eg. publish paper kemudian lulus).
4. tidak ada seorang pun yg tahu kapan akan kehilangan nyawanya. tapi aku selalu percaya bahwa hidupku adalah singkat dan aku ingin mempergunakannya sebaik2nya.
5. ada saatnya kapan seseorang harus maju dan harus mundur. terkadang maju di saat yg tidak tepat adalah bodoh dan mundur di saat yg tepat adalah ksatria.
Satu dari sekian banyak hal yang aku pelajari di Jepang adalah bagaimana orang-orang di sekitarku membuat slide presentasi menggunakan ms. Powerpoint. Aku memperhatikan beberapa poin menarik bagaimana orang Jepang, orang barat, dan orang Indonesia dalam membuat slide presentasi. Saya tidak tahu mana style yang paling baik untuk para pendenger. Tergantung dari pendenarnya juga mungkin ya. Tapi yang jelas, mari terlebih dahulu kita analisis satu per satu sytle presentasi mereka.
Orang Jepang
○ Isi satu halaman slide presentasi sangat penuh, bahkan hampir tidak ada bagian kosong yang tersisa,
○ Banyak berisikan tulisan kanji dan berukuran kecil,
○ Penggunaan foto, grafik, tabel dibuat dengan sangat memperhatikan kesamaan warna, simbol, bahkan scale,
○ Sering menggunakan fasilitas drawing, yang sebenarnya tidak convinience, untuk membuat ilustrasi sehingga banyak makan waktu utk membuatnya,
○ Jarang menggunakan fasilitas animasi dan design background yang tersedia.
Read more…
Pada dasarnya menulis untuk keperluan scientific ataupun non-scientific adalah sama, yaitu menyampaikan sebuah cerita dan kesimpulan (ending) yang bermakna bagi pembaca dan bukan hanya sebuah pernyataan kosong. Contohnya, klo suatu cerita yang panjang berbelit-belit tapi intinya hanya ingin mengatakan “Saya telah melakukan percobaan pada tikus putih.”, so what gitu loh? Yang pembaca ingin tahu kan alurnya, romatisme-nya, action-nya, kejadiannya seperti apa, lalu akhirnya apakah happy ending atau tidak. Klo kamu dah punya akhir cerita dan data-data untuk diceritain, kamu udah sangat siap untuk menulis. Tapi klo kamu mendapatkan bahwa sulit sekali untuk menulis, mulailah kembali dari kertas kosong dan pikirikan kembali apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan dari tulisan kamu itu nantinya.
Di tulisan ini saya mau sedikit share tentang beberapa tips menulis artikel scientific berdasarkan pengalaman saya pribadi ketika menulis untuk American Chemical Society pada jurnal The Journal of Physical Chemistry C (impact factor = 4.5) yang diterima dengan revisi yang sangat minor, proses review yang cepat, dan sampai terpilih menjadi cover untuk jurnal tersebut (link). Walaupun saya yakin metode yang saya pakai ini bukanlah metode yang paling baik, tapi semoga paling tidak bisa memberikan inpirasi dan panduan awal bagi beginners di dunia tulis-menulis artkel scientific.
Read more…
published in motivasibeasiswa.org → link
Sekolah tinggi ke luar negeri apalagi mendapatkan beasiswa tidak pernah menjadi dambaan saya (setidaknya hingga saya menjadi mahasiswa tingkat tiga) karena saya dibesarkan di keluarga pedagang yang tidak terlalu memikirkan pendidikan super tinggi dan tidak pernah mewarisi DNA seorang “jenius”. Tapi alhamdulillah kehidupan saya selalu dipenuhi inspirasi dan motivasi khususnya dari ayah sang entrepreneur dan teknopreneur-teknopreneur Jepang seperti Akio Morita, Konosuke Matsushita, dan Tokuji Hayakawa, hingga akhirnya saya berhasil mengikuti program student exchange ke Osaka University tahun 2008 dengan beasiswa JASSO dari pemerintah Jepang dan melanjutkan sekolah S2 ke Tohoku University tahun 2009 dengan beasiswa Monbusho (Monbukagakusho). Dan segera setelah lulus, alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan sebagai engineer di sebuah perusahaan elektronik di Jepang.
Keberangkatan saya ke Jepang bermula saat tahun ketiga kuliah S1. Saat itu saya merasa sedikit tidak puas dengan materi kuliah atau eksperimen mengenai materials science dan nanotechnology yang diajarkan karena jumlahnya sangat sedikit. Sejak saat itu munculah keinginan untuk lanjut sekolah S2. Di tahun yang sama, entah memang sudah takdir sepertinya, saya mulai suka belajar bahasa Jepang, suka nonton dorama (drama) Jepang, dan kebetulan mendengar salah seorang senior saya yang berhasil mendapatkan beasiswa Monbusho. Mengetahui bahwa Jepang sangat kuat dalam materials science dan nanotechnology dan ada senior yang bisa saya mintai saran-sarannya, tanpa pikir panjang seketika itu juga saya putuskan “Yosh… beasiswa Monbusho dan Jepang adalah target saya berikutnya”. Walaupun masih ada dua tahun sebelum lulus, saya sudah mulai mencari informasi universitas Jepang di internet, mengkontak beberapa professor di Jepang, mencari informasi beasiswa di website kedubes Jepang, informasi dari senior-senior, ikut sekolah bahasa Inggris khusus untuk TOEFL, ikut sekolah bahasa Jepang, sampai berusaha menaikan nilai IPK supaya bisa bersaing dan tidak terlalu memalukan ketika submit form pendaftaran beasiswa.
Read more…
published in PPIS’s homepage → link
Job hunting atau dalam bahasa Jepang disebut sebagai 就職活動 (syuushoku katsudou, disingkat 就活 syuukatsu), atau dalam bahasa Indonesia “Aktivitas Mencari Kerja”, di negeri sakura ini adalah suatu proses yang sangat unik. Apa yang membuatnya unik? Syuukatsu biasanya di Jepang dimulai 1,5 atau 2 tahun sebelum lulus universitas (mahasiswa S1 tahun ke-3 atau mahasiswa S2 tahun ke-1 atau mahasiswa S3 tahun ke-2). Apa saja yang mereka lakukan selama 2 tahun tersebut? Dan apa makna di balik 2 tahun tersebut? Berikut adalah hasil pengamatan penulis.
Menjadi “seorang pekerja” bagi orang jepang memiliki makna yang sangat mendalam. Jika kita lihat bahasa jepangnya pekerja dalam huruf kanji adalah 社会人 (shakai jin). Shakai berarti “society” dan Jin berarti “orang”. Apa maksudnya? Maksudnya adalah, bekerja di sebuah perusahaan berarti kita mendapatkan gaji. Gaji berasal dari keuntungan perusahaan menjual produk/jasa ke masyarakat. Dengan kata lain, kita digaji oleh masyarakat. Oleh karena itu pekerja memiliki tanggung jawab kepada masyarakat.
Read more…
Recent Comments