Pola Pikir Tumbuh vs Buntu

July 18, 2013 Leave a comment

Ditulis kembali dari buku berjudul “Pembelajaran T.P. Rachmat”

Dalam lingkungan kerja sehari-hari, kita pasti pernah berjumpa dengan orang-orang bertalenta besar dengan ambisi setinggi langit. Tapi, karier mereka justru tak semenjulang kecakapan dan semangatnya. Hingga jenjang tertentu, pekerjaan mereka tak mendatangkan kemajuan yang semestinya, padahal ada catatan sukses yang menakjubkan di masa lalu. Ternyata, alih-alih menghasilkan tenaga untuk menciptakan kesuksesan baru, kesuksesan masa lampau justru melumpuhkan gerak mereka untuk melangkah maju.

Sosok-sosok high achiever yang begitu terpaut dengan pencapaian kinerja mereka di masa lalu rela mengorbankan kemajuan pribadi mereka. Karena terbiasa dengan catatan kesuksesan atas tugas pekerjaannya saat ini, mereka cenderung menghindari penugasan yang akan menguji kesanggupan mereka untuk mempelajari hal baru. Mereka cenderung mempertahankan citra kesuksesan yang mereka miliki saat ini, sehingga tak sudi mengambil resiko untuk menempuh tantangan baru. Itu sama artinya dengan menjerembabkan diri ke dalam rutinitas, yang pada gilirannya akan menihilkan perkembangan pribadi.

Fenomena seperti itu disebut oleh Thomas dan Sara DeLong (dalam Harvard Business Review, Juni 2011) sebagai the paradox of excellence. Dikatakan paradoks karena ternyata kemampuan dan ambisi seseorang tak berkorelasi positif dengan pencapaian kemajuan hidupnya. Bahkan boleh dikatakan justru yang terjadi malah sebaliknya. Pengalaman konseling yang diberikan oleh kedua pakar di atas terhadap 600-an prefesional selama 35 tahun mengantar mereka kepada kesimpulan bahwa para jagoan cenderung memilih mengerjakan hal yang salah dengan baik daripada mengerjakan hal yang benar dengan buruk (doing the wrong thing well instead of doing the right thing poorly). Mari sedikit memainkan imajinasi. Katakanlah ada dua jalan yang bisa kita tempuh. Jalan pertama mengantar ke tempat yang memang ingin kita tuju, tapi sayangnya kondisinya buruk dan penuh lubang. Sementara jalan kedua akan menuntun ke tempat yang tidak kita targetkan, tapi kondisinya mulus dan sangat menyenangkan. Mana jalan akan kita tempuh? Pilihan ada di tangan kita masing-masing. Dalam konteks cerita para jagoan di atas, mereka akan cenderung memilih jalan yang kedua, yang mulus, menyenangkan, sekaligus aman, sekalipun mereka tahu bahwa itu adalah jalan yang salah.
Read more…

Categories: Thoughts

Buku “Bekerja Ala Jepang” Segera Terbit

May 22, 2013 3 comments

poster

Sudah bisa dipesan dari sekarang (Pre Order/Reseller: Diskon 10%).
Pemesanan:
081536219777 (Indonesia, a.n. Alhudri)
08040169369 (Jepang, a.n. Norma)

Bagi yang ingin atau sedang membuka usaha, bagi yang berencana bekerja atau tengah bekerja, bagi mahasiswa yang berencana ingin mencari pengalaman bekerja di Jepang, atau bagi yang senang mempelajari buadaya Jepang, insya Allah buku ini sangat cocok sebagai referensi.

BEKERJA ALA JEPANG
Mulai dari Budaya Masyarakat, Capai Kemajuan Industri

Penulis: Tim Enjinia Nusantara
Editor: Muhammad Haris Mahyuddin, Aprillia Norma Ekasari, Farid Triawan, Abdi Pratama Adrian Rabuna
Editor Teknis: Norma Juliandi dan Berry Juliandi
Perancang Sampul: Ike Rosana
Ilustrasi: Ismail Habibi
ISBN: 978-602-17505-8-2
Cetakan 1, Mei 2013
Penerbit: Pena Nusantara

Sinopsis:
“No Pain No Gain”, tidak ada sukses yang tidak diiringi kerja keras. Bagi masyarakat Jepang, kerja keras saja rupanya tidak cukup. Ada hal lain yang menjadi kunci dasar tercapainya kemajuan industri negeri matahari terbit ini, yaitu budaya kerja masyarakatnya.
Buku ini membeberkan satu persatu keunikan budaya kerja masyarakat Jepang tersebut berdasarkan pengalaman dan kisah nyata para profesional Indonesia yang bekerja di Jepang. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, buku ini sangat cocok dibaca oleh para pelajar atau mahasiswa yang akan segera terjun ke dunia industri, para praktisi industri di tanah air, para profesional yang berencana untuk hidup dan bekerja di Jepang, atau bagi para pecinta budaya khas Jepang.

Categories: Experiences, Thoughts

Mengembalikan Apa Yang Sudah Mereka Korbankan Untukku

March 28, 2013 Leave a comment

A professor stood before his philosophy class and had some items in front of him. When the class began, he wordlessly picked up a very large and empty mayonnaise jar and proceeded to fill it with golf balls. He then asked the students if the jar was full. They agreed that it was.

The professor then picked up a box of pebbles and poured them into the jar. He shook the jar lightly. The pebbles rolled into the open areas between the golf balls. He then asked the students again if the jar was full. They agreed it was.

The professor next picked up a box of sand and poured it into the jar. Of course, the sand filled up everything else. He asked once more if the jar was full.. The students responded with a unanimous yes.
The professor then produced two Beers from under the table and poured the entire contents into the jar effectively filling the empty space between the sand. The students laughed..

Now, said the professor as the laughter subsided, I want you to recognize that this jar represents your life. The golf balls are the important things?-your family, your children, your health, your friends and your favorite passions?-and if everything else was lost and only they remained, your life would still be full. The pebbles are the other things that matter like your job, your house and your car.. The sand is everything else?-the small stuff.
If you put the sand into the jar first, he continued, there is no room for the pebbles or the golf balls. The same goes for life.

If you spend all your time and energy on the small stuff you will never have room for the things that are important to you.
Pay attention to the things that are critical to your happiness.
Spend time with your children. Spend time with your parents. Visit with grandparents. Take your spouse out to dinner. Play another 18. There will always be time to clean the house and mow the lawn.
Take care of the golf balls first?-the things that really matter. Set your priorities. The rest is just sand.

Saat anda menemukan dan membaca tulisan ini mungkin anda pun sedang merasakan hal yg sama dengan saya, yaitu apa yg saya cari dalam hidup ini? mengapa saya bekerja begitu keras hingga meraih banyak kesuksesan tapi kok merasa adanya kekosongan yang besar dalam hidup?

Ada banyak hal yg bisa membuat kita bahagia, yaitu kedekatan dgn Tuhan, keluarga, kekayaan, kesehatan, semangat, pertemanan, pekerjaan, gelar akademik, dll. Tapi mungkin sedikit dari kita yang mengetahui, di antara itu semua manakah yang paling penting, mana yang perlu mendapatkan prioritas utama, mana yang perlu dilakukan terlebih dulu dalam hidup ini.

Hal-hal penting yg perlu mendapatkan prioritas utama biasanya ada di dekat kita. Saking dekatnya, anda tidak menyadari bahwa mereka adalah bagian terpenting dalam hidup anda, sehingga wajar jika lantas anda menginginkan hal lain. Lakukanlah apa yg ingin anda kejar, yg bisa membawa kebaikan bagi anda di masa depan, yg bisa membuat anda lupa sementara ttg mereka yang penting itu, sehingga pada akhirnya anda tersadarkan bahwa mereka memanglah penting dalam hidup anda dan anda harus segera kembali kpd mereka.

Categories: Life in Osaka, Thoughts

Computer Hardware Geeking

November 17, 2012 Leave a comment

Dah lama rasanya ga hunting parts komputer kyk jaman SMA. Klo dulu krn msh susah akses internet jadinya saya langganan tabloid PCPlus walopun ga terlalu rutin beli. Dari tabloid inilah saya tahu & ngerti ttg part2 komputer yg lg ngetrend, yg udah usang atopun yg akan datang. Dari tabloid ini jg saya sering ikut seminar2 spt merakit komputer, membangun jaringan, dll.

Bagi saya hobi ini bukan sekedar ajang buang uang demi kepuasan tapi juga saya belajar bgmn caranya memanage uang yg pas2an utk mendapatkan barang yg diinginkan dgn harga semurah mungkin, yaitu dengan cara menawar dan mengotak-atik spec komputer mulai dari processor sampe ke DVD drive dari berbagai merk. Tp jelas, sebagai konsumen keinginan utama saya kualitas. Masih inget, waktu itu lg jaman2nya CD-RW writer baru keluar. Sejak dulu saya penggemar Pioneer klo urusan optical drive, tp apa boleh buat krn Pioneer harganya selangit jd saya putuskan utk beli merk Samsung yg harganya hampir stengah harga Pioneer. Eh tapi nyesel bgt krn cuma bertahan bbrp bulan trus jebol yg akhirnya saya harus bolak-balik ke tokonya utk minta garansi sampe marah2 di tokonya (hehe maklum krn saya dibesarkan di keluarga dagang, jd saya tahu betul hak saya sbg konsumen.. jd jgn macem2 klo berbisnis dgn saya haha). Yaah.. walopun skrg Samsung malah meroket dan bahkan mengalahkan elektronik2 Jepang sekelas SONY & Pioneer.
Read more…

Categories: Hobbies

同じ信念、同じ趣味、同じ価値を持っている妻か。。

August 27, 2012 Leave a comment
Categories: Thoughts

Indonesia’s future? Depend on its people

July 28, 2012 3 comments

Repost from Opik’s blog. Credit goes to him.


Penduduk kawasan nusantara setiap milenium selalu menghasilkan karya besar. Dinasti Syailendra pada milenium pertama menghasil kuil/candi Budha terbesar di dunia. Milenium kedua, Majapahit memerintah seluruh kawasan Asia Tenggara. Lalu, bagaimana dengan milenium ketiga?

Goldman Sachs memprediksi bahwa pada tahun 2045~2050, PDB dunia berkembang dari USD 70T saat ini menjadi USD 420T. Dari jumlah tersebut, 50-54% dihasilkan dari Asia, dimana Cina, India, dan Indonesia membangun porsi besar dari situ. Tahun 2000, lima negara dengan perekonomian terbesar di dunia adalah USA, Jepang, Jerma, Prancis, dan Inggris. Tahun 2011 USA, Cina, Jepang, Jerman, Prancis. Nah, di masa depan tak jauh dari sekarang, di dunia ini penduduk yang berusia di atas 65 tahun akan berjumlah dua kali lipat penduduk yang berusia kurang dari 15 tahun. Artinya, struktur demografis penduduk bakal berubah menjadi piramida terbalik. Ini berbahaya karena jumlah penduduk yang tak produktif kurang dari jumlah penduduk produktif.

Situasinya berbeda dengan negara kita. Dengan laju kelahiran dan kematian kita, Indonesia bisa mempertahankan profil demografi kita yang sekarang sampai kira-kira tahun 2025, dengan pertambahan penduduk 1-2% per tahun. Dan bagaimana profil demografi kita saat ini? Saat ini, 60% dari penduduk Indonesia berusia kurang dari 39 tahun. 50% dari penduduk Indonesia berusia kurang dari 29 tahun. Ini luar biasa! Karena ada begitu banyak penduduk usia produktif. Tentu dengan syarat, tersedia pendidikan dan lapangan yang cukup.
Read more…

Categories: Autobiography, Thoughts

Globalisasi di perusahaan Jepang, kenapa?

July 7, 2012 7 comments

Berbicara tentang globalisasi yg sedang marak dibicarakan di hampir semua industri/perusahaan Jepang rasanya bikin sakit telinga. Kenapa sih perusahaan Jepang sampe segitunya pengen punya banyak pegawai asing? Jawaban yang paling simple adalah karena perusahaan Jepang ingin investasi karyawan asing untuk dididik di Jepang kemudian ditransfer ke negara asalnya utk membangun perusahaan tsb. Tapi jika itu alasannya, ada pertanyaan besar. Orang asing kan ga kayak orang Jepang yg kerja di satu tempat, aman dari pemecatan, ga pindah2 sampe mati. Jd ga ada yg bs ngejamin bahwa orang asing tsb akan selamanya setia kerja di perusahaan Jepang tsb. Maka jawaban simple tsb di atas tidaklah rasional. Makanya saya pernah menanyakan hal ini saat saya wawancara kerja, tp saat itu saya tidak mendapatkan jawaban yg memuaskan. Mungkin karena pemilihan kosakata saya yg kurang tepat saat melontarkan pertanyaan sehingga jawaban yg diberikan tidak sesuai dgn yg saya harapkan.

Hal itu terus menjadi pertanyaan bagi saya sampe saya membaca review buku berjudul 10年後に食える仕事、食えない仕事 (10-nen go ni kueru shigoto, kuenai shigoto). Dalam bahasa Indonesia ini bs diterjemahkan kurang lebih “Pekerjaan yang bisa dilahap dan tidak bisa dilahap dalam waktu 10 tahun mendatang” Awalnya saya pun bingung spt anda heheh. Ya, maksudnya adalah jenis pekerjaan apa di masa 10 thn mendatang yg masih kompetitif bagi orang Jepang. Tulisan saya ini berdasarkan pemahaman saya dari hasil membaca review berbagai blog orang2 Jepang, dan saya sendiri blum baca bukunya langsung (males aja baca kanji seabrek gitu :P)

Read more…

Categories: 社会人の物語