Home > Road to Japan 2009 > Straight berturut-turut dua beasiswa ke Jepang

Straight berturut-turut dua beasiswa ke Jepang

published in motivasibeasiswa.org → link

Sekolah tinggi ke luar negeri apalagi mendapatkan beasiswa tidak pernah menjadi dambaan saya (setidaknya hingga saya menjadi mahasiswa tingkat tiga) karena saya dibesarkan di keluarga pedagang yang tidak terlalu memikirkan pendidikan super tinggi dan tidak pernah mewarisi DNA seorang “jenius”. Tapi alhamdulillah kehidupan saya selalu dipenuhi inspirasi dan motivasi khususnya dari ayah sang entrepreneur dan teknopreneur-teknopreneur Jepang seperti Akio Morita, Konosuke Matsushita, dan Tokuji Hayakawa, hingga akhirnya saya berhasil mengikuti program student exchange ke Osaka University tahun 2008 dengan beasiswa JASSO dari pemerintah Jepang dan melanjutkan sekolah S2 ke Tohoku University tahun 2009 dengan beasiswa Monbusho (Monbukagakusho). Dan segera setelah lulus, alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan sebagai engineer di sebuah perusahaan elektronik di Jepang.

Keberangkatan saya ke Jepang bermula saat tahun ketiga kuliah S1. Saat itu saya merasa sedikit tidak puas dengan materi kuliah atau eksperimen mengenai materials science dan nanotechnology yang diajarkan karena jumlahnya sangat sedikit. Sejak saat itu munculah keinginan untuk lanjut sekolah S2. Di tahun yang sama, entah memang sudah takdir sepertinya, saya mulai suka belajar bahasa Jepang, suka nonton dorama (drama) Jepang, dan kebetulan mendengar salah seorang senior saya yang berhasil mendapatkan beasiswa Monbusho. Mengetahui bahwa Jepang sangat kuat dalam materials science dan nanotechnology dan ada senior yang bisa saya mintai saran-sarannya, tanpa pikir panjang seketika itu juga saya putuskan “Yosh… beasiswa Monbusho dan Jepang adalah target saya berikutnya”. Walaupun masih ada dua tahun sebelum lulus, saya sudah mulai mencari informasi universitas Jepang di internet, mengkontak beberapa professor di Jepang, mencari informasi beasiswa di website kedubes Jepang, informasi dari senior-senior, ikut sekolah bahasa Inggris khusus untuk TOEFL, ikut sekolah bahasa Jepang, sampai berusaha menaikan nilai IPK supaya bisa bersaing dan tidak terlalu memalukan ketika submit form pendaftaran beasiswa.

Belum selesai urusan beasiswa Monbusho, awal tahun keempat saya mendapatkan kesempatan mendaftarkan diri ke program student exchange di Osaka University sambil terus melakukan persiapan untuk daftar beasiswa Monbusho. Tahun yang sangat berat, tertatih-tatih menyelesaikan skripsi sambil mendaftarkan diri ke dua program beasiswa sekaligus. Menjelang sidang skripsi, saya mendapatkan kabar gembira bahwa saya diterima di program exchange tersebut. Mungkin ada yang berfikir “aneh, sudah mau lulus tapi kok baru akan berangkat exchange”. Tapi begitulah kenyataannya, sehingga saya harus menunda wisuda saya hingga program exchange selesai dan kembali ke Indonesia.

Saya merasa sangat bersyukur karena keputusan saya berangkat exchange ke Osaka University ini telah membantu memperdalam ilmu pengetahuan saya sebagai persiapan menuju S2 dan telah membantu keberhasilan saya meraih beasiswa Monbusho karena saat wawancara saya ditanya tentang pengalaman sekolah ke Jepang. Pada saat wawancara beasiswa Monbusho saya memang belum berangkat ke Osaka tapi saat itu sudah ada kepastian akan berangkat ke Osaka University selama 6 bulan. Sebelum berangkat ke Osaka, semua proses seleksi beasiswa Monbusho sudah selesai tinggal menunggu hasil. Pengumuman hasil akhirnya saya terima ketika saya sedang berada di Osaka melalui telepon. Satu bulan setelah kembali ke Indonesia dari Osaka dan kemudian mengikuti wisuda S1, saya berangkat lagi ke Jepang. Kali ini ke Tohoku University di utara Jepang untuk mengikuti program bahasa Jepang yang disusul program S2 jika lulus ujian masuk.

OK, sekarang mari kita telaah apa sih yang sebenarnya para pemberi beasiswa inginkan dari kita ketika kita mendaftarkan diri sebagai calon peraih beasiswa? Khususnya untuk beasiswa Monbusho program graduate school ke Jepang, kita lihat kenapa non-English-speaking country seperti Jepang mengharuskan nilai TOEFL yang cukup tinggi, tapi tidak mengharuskan memiliki IPK yang sangat tinggi dan kenapa mahasiswa S1 yang belum lulus bahkan belum fresh from oven but still in oven harus nulis proposal riset (boro-boro riset, kuliah aja blom kelar). Kesimpulan yang saya dapat adalah bahwa pemberi beasiswa (Monbusho) menginginkan orang-orang yang tidak hanya berpotensi secara akademik tapi juga yang pandai dalam mengkomunikasikan ide-ide penelitiannya dalam bahasa Inggris. Maka, syarat IPK dan TOEFL adalah harga mutlak yang harus dihormati dan dipatuhi. Selebihnya, hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan daya saing kita supaya terlihat menonjol di antara calon peraih beasiswa lain adalah kemampuan menulis karena pekerjaan mahasiswa di program graduate school tidak lain adalah menulis scientific paper atau paling tidak thesis report. Jika sampai tahap ini berhasil dilakukan dengan baik, seleksi pertama (seleksi dokumen) insyaAllah aman.
Seleksi berikutnya adalah ujian bahasa dan wawancara. Untuk ujian bahasa saya tidak punya tips khusus, just study hard and do your best. Untuk wawancara, ada beberapa tips yang bisa saya share yaitu ①membuat slide presentasi sederhana yang kemudian diprint untuk dibawa dan dipresentasikan saat wawancara, dan ②membuat daftar pertanyaan yang mungkin keluar saat wawancara dan kemudian dijawab sendiri dan dihafal poin-poinnya. Poin pertama, selain untuk menunjukkan keseriusan kamu, membuat slide presentasi akan membantu kamu dalam memetakan apa yang sebenernya ingin kamu teliti di Jepang nanti. Poin kedua, terkadang kita tidak bisa berpikir jernih dihadapan para pewawancara karena gugup dll. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika kita sudah mengerti poin-poin penting apa saja yang mesti diucapkan saat suatu pertanyaan muncul.

Berikut adalah beberapa tips tambahan yang bisa saya share untuk teman-teman yang sedang berburu beasiswa sekolah khususnya ke luar negeri.
① Go to a war that you can win
• Pilihlah negara tujuan yang memang kuat di bidang ilmu yang hendak kamu pelajari. Di negara yang kuat dalam bidangnya, dana riset/beasiswa dan jumlah peneliti/mahasiswa yang diperlukan jelas lebih banyak meskipun saingannya pun akan lebih banyak juga.
• Naiki anak tangga satu per satu. Jika kamu sagat ingin belajar ke MIT di US tapi IPK dan kualifikasi kamu tidak terlalu tinggi, mulailah cari beasiswa sekolah ke negara tetangga yang lebih maju daripada Indonesia sebagai batu loncatan.
• Tingkatkan kualifikasi kamu dan jadilah orang yang berbeda. Terkadang ada banyak kasus dimana kita dan saingan kita memiliki kemampuan dan kualifikasi yang sama, sehingga sulit untuk menentukan siapa yang lebih layak mendapatkan beasiswa. Di saat seperti inilah kamu harus punya senjata pamungkas yang kebanyakan orang tidak punya seperti kemampuan mengkomunikasikan betapa penting dan gentingnya riset yang akan kamu lakukan, kemampuan leadership, berbicara dalam beberapa bahasa asing, menari tarian daerah, dll.
② Fokus dan start lebih awal
Jika kita sudah memutuskan suatu tujuan, fokus pada satu atau maksimal dua program beasiswa saja dan segeralah mencari informasi yang banyak untuk memulai perencanaan. Selain mencari informasi dari website, berkonsultasi langsung dari penerima beasiswa pun sangat bermanfaat. Karena mencari informasi itu memakan waktu cukup banyak. Jadi, dengan memusatkan tenaga dan pikiran pada satu atau dua program beasiswadan memulai start lebih awal, kamu akan lebih konsentrasi dan lebih punya banyak waktu untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai tips dan trik. Kumpulkan semua informasi tersebut dan buatlah analisis seperti pribadi seperti apa yang dicari, bidang riset apa yang menjadi fokus di negara tujuan, dari sekian banyak ujian seleksi, bagian mana yang perlu perhatian khusus, dll.
③ Perbanyak teman seperjuangan
Yang namanya motivasi tuh ada kalanya naik, ada kalanya turun. Nah, supaya gak terus-terusan turun, bergaulah dengan temn-teman yang sedang berburu beasiswa juga. Dengan berdiskusi setiap hari tentang beasiswa dengan teman-teman seperjuangan, kamu bisa curhat, bisa dapat lebih banyak informasi dan saran, dan lebih bersemangat.
④ Masuk kolam dulu baru belajar
Selama menjalani letihnya perjuangan akan ada satu atau dua kekhawatiran yang sangat mungkin muncul dari keluarga atau teman seperti “Seriusan lo mo sekolah ke amrik? Kesampean ga otak lo?” atau “Nak, nanti kamu hidup sendirian di negeri jauh. Klo ada apa-apa siapa yang mau nolong kamu?”. Jangan sampai hal-hal seperti itu, hal-hal yang belum jelas terjadinya, menghambat kamu untuk meraih beasiswa dan belajar ke luar negeri. Jika kamu tidak pernah masuk kolam renang, kamu gak akan pernah merasakan betapa dingin tapi juga senangnya bisa berenang di dalam kolam. Tapi jangan nekat ya, tetap harus ukur diri 😀
⑤ Banyak minta tolong kepada Tuhan, minta restu orang tua, dan minta rekomendasi dosen
Mintalah petunjuk kepada Yang Maha Berkuasa mentakdirkan kita meraih beasiswa supaya diberikan jalan yang terbaik, yang mulus sedikit hambatan. Mintalah restu orang tua karena bagaimana pun orang tua adalah salah satu alasan keberadaan kita di dunia dan orang yang akan men-support moril dan keuangan kita untuk ikut tes TOEFL dll. Mintalah surat rekomendasi dari dosen/professor karena beasiswa sekolah berhubungan dengan akademik dan professor adalah orang yang paling berpengaruh di institusi akademik sehingga rekomendasi beliau bukanlah hal yang sepele.

Selama berada di Jepang, saya melakukan penelitian di sebuah laboratorium yang anggotanya kebanyakan adalah mahasiswa asing non-Japanese yang juga mendapatkan beasiswa Monbusho atau beasiswa lainnya. Belajar dan bekerja di lingkungan kompetitif bersama orang-orang terbaik dari berbagai negara merupakan tantangan tersendiri sekaligus pengalaman yang sangat jarang terjadi di Jepang. Saya bisa mempelajari tidak hanya kebudayaan dan bahasa Jepang tapi juga kebudayaan negara lain sambil mempraktekan kemampuan bahasa Inggris sehingga bisa menjadi manusia global yang memahami perbedaan sifat dan kebiasaan. Menikmati fasilitas dan pelayanan negara maju yang terkenal dengan pabrik otomotif dan elektroniknya tapi tidak banyak warganya yang mengendarai kendaraan pribadi dan boros mengkonsumsi listrik adalah sesuatu yang membuat saya terkagum-kagum hingga kini.

Useful links:
Group Pemburu Beasiswa di FB
Cerita perjuangan mendapatkan beasiswa Monbukagakusho

Advertisements
Categories: Road to Japan 2009
  1. Lisa Putri
    September 8, 2012 at 8:56 pm

    waaah keren!! subhanallah yah 🙂

    • harisu
      October 30, 2012 at 9:54 pm

      terima kasih Lisa

  2. October 29, 2012 at 3:25 pm

    salam kenal,
    saya lulus sebagai penerima beasiswa juga, tapi bukan dari monbugakusho
    maaf sebelumnya, saya mau tanya tetapi bkn seputar kampus tohoku, tapi waseda siapa tau anda bs berbagi info dari pengalaman sewaktu masuk tohoku,
    apakah riset ditentukan setelah dinyatakan masuk di univ waseda?
    lalu surat rekomndasi yang dibutuhkan untuk mendaftar di waseda adalah rekomendasi dari dosen atau dekan pada kampus sebelumnya ya??
    trimakasih

    • harisu
      October 30, 2012 at 10:01 pm

      salam kenal Hana..
      selamat utk beasiswanya.. semoga sukses di jepang nanti.
      topik riset ditentukan stelah banyak berdiskusi dengan sensei (Prof). yg harus jd concern saat masuk univ adalah memilih sensei krn sensei hanya memegang satu lab di satu bidang riset tertentu saja. pengalaman saya waktu di Tohoku Uni, saya memilih sensei dulu, stelah itu ikut ujian masuk program master, lalu di akhir tahun pertama master saya bareng2 sensei menentukan topik riset.
      surat rekomendasi saya rasa bebas, yg penting dosen aktif. tapi pengalaman saya dulu, utk bisa ikut ujian masuk program master justru rekomendasi sensei jepang yg diminta, sedangkan rekomendasi dari dosen di kampus sebelumnya ga diminta sama sekali. rekomendasi dari dosen di kampus sebelumnya cuma dipake utk dapetin beasiswa.

  3. Hana
    October 30, 2012 at 10:56 pm

    terimakasih banyak pak haris
    berarti pada saat di tohoku dulu tidak harus riset dulu baru boleh masuk S2?
    lalu, saya kan termasuk calon mahasiswa asing, apakah mahasiswa asing biasanya wajib ikut ujian masuk juga disana?
    trimakasih pak

    • harisu
      October 31, 2012 at 9:17 pm

      heheh ga, justru masuk S2 tuh kan utk ngerjain riset. klo riset udah beres mah ga perlu S2/S3.
      semua calon mahasiswa, baik itu mhs jepang atopun asing wajib ikut ujian masuk. bentuk ujiannya berbeda2 tergantung fakultas. ada yg cuma presentasi proposal riset, ada yg ujian tulis, ada yg ujian lisan dll

  4. February 7, 2013 at 2:57 am

    Terima kasih. Saya mau bertanya, bagaimana proses mendapatkan beasiswa ke jepang apakah sulit?

  5. Weny Zuwirna D
    February 14, 2013 at 12:37 pm

    ass,.. slam knal,.. saya diterima di univ. gifu dijepang, tp bkan monbugakusho, saya sdh mnjadi research student 5 bulan, dan sudah lulus ujian S2. saya memperoleh beasiswa u free pendidikan dan tempat tinggal. sebenarnya saya ingin mencoba apply beasiswa yg bs untuk biaya hidup juga, kira2 ada saran tdk buat saya,.. mksh

  6. April 22, 2013 at 5:48 pm

    Wah sial. Keren banget jarak sebulan habis exchange, wisuda, langsung s2 ke jepang lagi.
    Waktu itu nyoba daftar exchange di tingkat tiga tapi gagal. Tingkat empat saya ragu daftar haha. Bisa ya ternyata…
    Keren-keren…

  7. Farlin
    August 19, 2013 at 12:58 am

    salam kenal, gimana ngontak profesor di jepang? Apa di website universitas disana? thx 🙂

    • harisu
      August 19, 2013 at 3:33 am

      salam kenal Farlin. kontak via email aja, Farlin. alamat emailnya bisa didapat dari websitenya

  8. ayudhya
    September 16, 2013 at 1:15 am

    maaf saya mau nanya, saat anda mengontak profesor di jepang dan meminta rekomendasi, anda memakai bahasa jepang atau bahasa inggris? terima kasih 🙂

    • harisu
      September 16, 2013 at 9:51 am

      pakai bahasa inggris karena waktu itu saya belum bisa berbahasa jepang

      • ayudhya
        September 17, 2013 at 5:10 pm

        setelah saya searching2 d blog2 yg menshare pgalaman beasiswa d jepang, kbanyakan yg saya temukan adl pgalaman beasiswa untuk jurusan eksak, kalo misal mengajukan untuk jurusan desain gtu kira2 bsa d trima ga ya?

  9. Williyao
    May 11, 2014 at 8:02 pm

    Mohon tanya, apakah jika ingin kuliah S2 di Jepang ada seleksi ujian tulis untuk masuk ke universitasnya ya? Ataukah hanya seleksi berkas administratif saja? thks. mohon info

    • harisu
      March 7, 2017 at 3:07 pm

      Tergantung dari universitas dan jurusannya, tapi umumnya ada ujian tulis dan wawancara

  10. May 21, 2014 at 3:01 pm

    inspiratif, terimakasih. luar biasaya perisapannya!! keinginan untuk sekolah di jepang sebenarnya udah ada dari smp. tapi sayanganya kemudian sempat terkubur karena keadaan. entah kenapa diakhir akhir kuliah s1 dan akhirnya sekarang saya sudah lulus, ada keinginan lagi untuk pergi ke jepang dan meneruskan s2 saya. saya ingin sekali mendalami mengenai bioteknolgi (s1 saya farmasi). sebenarnya bila saya mengukur kemampuan diri kata orang saya bisa, tapi permasalahan datang dari saya sendiri. kadang saya suka merasa rendah diri, maksudnya ragu2 akan kemampuan saya, bener gak ya saya bisa? hehe maklum, saya memang tipe orang yang spti itu.

    nah, adakah tips supaya bisa jadi booster pd saya? dan saya ada pertanyaan. persiapan 1 tahun (misal bahasa inggris dan jepang) untuk mengikuti seleksi beasiswa itu apakah cukup??? terimakasih 🙂

  11. March 31, 2015 at 8:57 pm

    Wahhh keren kak. Salutttt banget..
    Saya jg ingin sekali S2 di jepang, makanya saya searching di google apa saja pengalaman2 orang lain yang dpt beasiswa di jepang. Padahal aku baru semester 2 hehe tpi sudah memikirkan untk ke jenjang studi lebih tinggi lagi. Ohiya sy mau nanya, emangnya di jepang sangat kurang yah peminat jurusan komunikasi?

  12. March 7, 2017 at 1:33 pm

    Hebat Haris, Inspiratif sekali.
    Semangat perjuangannya bisa jadi contoh buat org lain 🙂
    Sukses selalu yah

    • harisu
      March 7, 2017 at 3:06 pm

      Makasih bu dosen Widya 🙂
      Aamiin semoga sukses selalu juga untuk Widya dan keluarga

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: